Pengalaman hidup yang penuh perlawanan itu kini diwujudkan Syafiq dalam bentuk yang jauh berbeda. Ia memilih membangun ruang aman bagi siapa saja yang ingin membaca tanpa memandang latar belakang.
Lewat Semarang Book Party, ia ingin menunjukkan bahwa membaca tidak harus dilakukan di perpustakaan atau ruang kelas. Taman kota pun bisa menjadi tempat belajar bersama.
Setelah sesi membaca selesai, seluruh peserta diajak berdiskusi mengenai buku yang mereka baca. Tidak ada guru, tidak ada murid. Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berbagi gagasan.
BACA JUGA: Kasus HIV Tinggi, DPRD Temukan Rumah Kos di Semarang Jadi Base Camp Komunitas Gay
Bagi Syafiq, perjalanan dari jalanan menuju komunitas literasi membuktikan bahwa masa lalu bukanlah batas untuk terus berkembang.
Justru dari pengalaman paling keras dalam hidup, ia menemukan keyakinan bahwa perubahan selalu mulai dari kemauan untuk belajar.
“Kalau dia enggak mau belajar loncat, belajar mengepakkan sayap, maka dia enggak akan bisa terbang. Begitupun manusia dengan segala potensi yang ada. Mau anak seorang pejabat, anak seorang penulis, anak seorang kepala sekolah atau rektor sekalipun, kalau dia enggak mau belajar, maka dia enggak akan menjadi seperti apa yang dia inginkan,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





