Jateng

Dari Jalanan ke Taman Baca, Perjalanan Anak Punk yang Menemukan Perlawanan Lewat Buku

×

Dari Jalanan ke Taman Baca, Perjalanan Anak Punk yang Menemukan Perlawanan Lewat Buku

Sebarkan artikel ini
komunitas book party semarang
Muhamad Syafiq Yunensa (baju hijau) bersama komunitas Semarang Book Party saat berkumpul di Taman Tirto Agung, Banyumanik, Kota Semarang. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Di bawah rindangnya pepohonan Taman Tirto Agung, Banyumanik, Kota Semarang, suasana hening terasa berbeda.

Puluhan anak muda duduk melingkar dengan buku di tangan masing-masing. Tak ada suara musik keras ataupun percakapan riuh. Yang terdengar hanya lembar demi lembar buku yang dibalik, sebelum akhirnya mereka saling berbagi cerita tentang apa yang baru saja dibaca.

Pemandangan itu menjadi rutinitas Semarang Book Party, komunitas literasi yang mengajak masyarakat membaca buku bersama di ruang terbuka. Namun, sedikit yang mengetahui bahwa komunitas tersebut lahir dari perjalanan hidup seorang mantan street punk yang pernah menghabiskan masa remajanya di jalanan.

BACA JUGA: Tampil di Infinifest Tentrem Mall Semarang, Hiroaki Kato Sebut Komunitas Pecinta Jepang Makin Solid

Muhamad Syafiq Yunensa, pemuda asal Brebes yang kini menjadi penggagas Semarang Book Party. Baginya, buku bukan sekadar bacaan, melainkan jalan untuk memahami hidup setelah bertahun-tahun belajar dari kerasnya kehidupan jalanan.

“Awal aku tertarik di dunia literasi juga karena semangat punk yang mengatakan bahwa untuk melawan dibutuhkan pengetahuan,” ujar Syafiq saat ditemui belum lama ini.

Kalimat itu merangkum perubahan besar dalam hidupnya. Dulu, perlawanan ia pahami sebagai keberanian menghadapi penindasan secara fisik. Kini, perlawanan baginya berarti memperluas wawasan dan membangun kesadaran melalui membaca.

Jalanan Menjadi Ruang Belajar

Perjalanan Syafiq menuju dunia literasi tidak dimulai dari perpustakaan ataupun ruang kelas. Justru jalananlah yang menjadi sekolah pertamanya.

Saat duduk di bangku sekolah, ia kerap membolos dan memilih menghabiskan waktu bersama komunitas punk. Di sana ia bertemu banyak orang yang kemudian membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan.

Ia mengaku banyak belajar dari tukang becak, penyapu jalan, pedagang, hingga anak-anak yang harus bekerja demi membantu ekonomi keluarga.