Catatan Editor

Di Balik Kesuksesan Film It Ends with Us: Eksplorasi KDRT yang Sureal

×

Di Balik Kesuksesan Film It Ends with Us: Eksplorasi KDRT yang Sureal

Sebarkan artikel ini
farah nazila
Farah Nazila. (Dokumen Pribadi)

Film ini mengisahkan seorang wanita muda bernama Lily Bloom yang memiliki masa kecil traumatis dimana ia sering melihat ayahnya melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap ibunya. Ketika dewasa, ia menemui pria tampan nan sukses, Ryle Kincaid yang bekerja sebagai dokter bedah saraf. Kehidupan baru bersama Ryle yang awalnya manis, kemudian menjadi mimpi buruk untuk Lily setelah adanya kekerasan dalam rumah tangganya.

Ada beberapa faktor yang menjadikan sebuah film sukses. Salah satunya adalah ekspektasi para penonton. Meski begitu, film ini memiliki cerita yang sureal, terlebih dalam mengeksplorasi kekerasan domestik itu sendiri.

Di awal film, terdapat adegan Ryle yang tengah marah, menendang kursi. Dari sana sudah terlihat stereotipe pelaku kekerasan yang memiliki masalah dalam mengontrol emosinya. Padahal, faktanya pelaku kekerasan adalah pemegang kendali yang kuat. Maka, tak jarang juga penelitian yang menyebut bahwa pelaku kekerasan berusaha untuk mengontrol penuh atas pasangan mereka. Kontrol ini bisa terwujudkan dalam berbagai bentuk, baik secara fisik, emosional, seksual, maupun finansial. (Wolfe dan Feiring (dalam Trifiani, 2012)

BACA JUGA: Belajar dari Kasus Selebgram Cut Intan Nabila, Berikut Karakteristik Suami yang Berpotensi Melakukan KDRT

Selain itu, film ini tidak memberikan penjelasan mengapa Ryle memiliki motivasi untuk tetap menjalani pernikahan dengan Lily. Hal ini terlihat dari sebuah adegan Ryle melakukan gaslighting terhadap Lily setelah ia melakukan tindakan kekerasan terhadapnya. Kita sebagai penonton tidak mendapati sisi terang dari pemikiran Ryle, yang sebenarnya penting.

Mengingat tontonan ini yang membahas soal kebebasan perempuan dari kekerasan domestik, yang tentunya memposisikan penonton sebagai Lily, bukannya sebaiknya mengeksplorasi pemikiran pemeran utamanya? Dua jam lebih durasi film ini tapi tak ada jawaban soal ‘Kenapa perempuan tetap bertahan dalam hubungan toxic?’