Widya mengatakan, Baznas DKI Jakarta terbuka untuk berkolaborasi dengan Baznas daerah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, maupun lembaga lain yang ingin mengembangkan Difabis sebagai ruang pemberdayaan penyandang disabilitas.
“Ada besar kemungkinan. Kalau misalkan dari Baznasnya atau dari Pemprov ataupun lembaga-lembaga lain yang mau kolaborasi sama Baznas DKI, kami open banget,” katanya.
“Misalkan, ‘Kak, kami tertarik, kami ada tempat nih, ada space mau buat kafe Difabis untuk pemberdayaan disabilitas di Jawa Tengah’, kami open banget,” sambung Widya.
Bagi Widya, interaksi pengunjung dengan barista Difabis di Pameran Serambi Nusantara tersebut menjadi bagian penting dari tujuan program mereka.
Sebab, Difabis tidak hanya ditujukan untuk memberikan pekerjaan kepada penyandang disabilitas, namun juga menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka kepada masyarakat.
“Jadi kami Baznas DKI itu visinya sebenarnya selain memberdayakan disabilitas, kami juga menyosialisasikan kalau misalkan difabel itu mampu, mereka bisa unjuk gigi,” tutur Widya.
Ia mengungkap salah satu persoalan yang dihadapi penyandang disabilitas adalah kepercayaan diri dan kemandirian.
Karena itu, kesempatan untuk bekerja sekaligus berinteraksi dengan masyarakat dinilai dapat menjadi ruang bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan dan menunjukkan potensi yang dimiliki.
Kehadiran stand Difabis Coffee and Tea pun menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. Di Pameran Serambi Nusantara, pengunjung tidak hanya membeli kopi, namun juga belajar bahasa isyarat secara langsung dari para barista.
“Dengan kayak gini mereka itu mampu share knowledge, ngasih ilmu ke teman-teman. Saya senang juga teman-teman di sini bertumbuh, kami pun bertumbuh, semua masyarakat bertumbuh bareng-bareng,” ujarnya.
Widya mengaku senang melihat antusiasme pengunjung di Kota Semarang yang ingin mengenal lebih jauh tentang disabilitas maupun bahasa isyarat.





