SEMARANG, beritajateng.tv – Stand Difabis Coffee and Tea yang digagas Baznas (Bazis) DKI Jakarta menjadi salah satu yang paling menyita perhatian di Lapangan Parkir Eks Gajahmada Plaza, Kota Semarang.
Siapa sangka, lewat secangkir kopi dan cokelat, pengunjung diajak belajar saling memahami. Momen ini hadir di Pameran Serambi Nusantara saat para pengunjung berinteraksi langsung dengan barista disabilitas.
Tak sekadar memesan minuman dengan bahasa ucapan biasa, sejumlah pengunjung, termasuk pelajar, bahkan antusias mempelajari Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) untuk berkomunikasi.
Sajian kopi dan cokelat di stan tersebut diracik langsung oleh dua barista penyandang tunarungu yang dengan cekatan melayani setiap pengunjung.
Sejumlah pelajar SMA yang datang pun tampak bersemangat mempraktikkan gerakan tangan Bisindo untuk menyampaikan pesanan mereka.
Bagi Baznas DKI Jakarta, interaksi ini memang menjadi ruh utama Difabis Coffee and Tea. Tak hanya memberdayakan penyandang disabilitas secara ekonomi, Baznas (Bazis) DKI Jakarta juga membuka ruang inklusif agar masyarakat bisa melihat langsung kemampuan mereka.
PIC Program Difabis Baznas (Bazis) DKI Jakarta, Widya Kirana, mengatakan Difabis merupakan program pemberdayaan ekonomi bagi penyandang disabilitas yang dijalankan Baznas DKI Jakarta.
BACA JUGA: Pemkot Ajak Peserta MTQ Nasional Muter Keliling Destinasi Wisata Semarang
Program tersebut diwujudkan melalui pembukaan kafe atau coffee shop dengan pekerja yang seluruhnya merupakan penyandang disabilitas.
“Jadi Baznas Bazis DKI Jakarta memiliki program pemberdayaan ekonomi bagi teman-teman disabilitas se-DKI Jakarta, bahkan kami di se-Jabodetabek,” kata Widya saat beritajateng.tv jumpai Kamis, 17 September 2026.
Difabis menyasar dua kelompok penyandang disabilitas, yakni tunarungu dan tunadaksa. Widya menuturkan, program tersebut telah berjalan sejak 2021.
Hingga 2026, Difabis telah memiliki delapan cabang di DKI Jakarta, yang tersebar antara lain di Kantor Wali Kota, Kantor Balai Kota, hingga area publik seperti wilayah Stasiun Sudirman.
“Dari situ semuanya full baristanya ataupun yang manajernya itu adalah disabilitas,” tutur Widya.
Widya mengungkap program tersebut hadir untuk menjawab persoalan penyandang disabilitas yang masih menghadapi kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan.
Hingga saat ini, kata Widya, sekitar 30 penyandang disabilitas tunarungu dan tunadaksa telah terserap melalui program Difabis di DKI Jakarta.
Tak Hanya Membuka Lapangan Kerja, Barista Difabis Dibekali Sertifikasi BNSP
Widya mengatakan, Baznas DKI Jakarta tidak hanya membuka lapangan pekerjaan bagi penyandang disabilitas. Sebelum bekerja, mereka juga mendapatkan pelatihan.
Bahkan pada 2024, Baznas DKI Jakarta telah menggelar pelatihan sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) bagi barista penyandang disabilitas.
“Alhamdulillah sudah 20 barista disabilitas yang sudah kami sertifikasikan,” ucap Widya.
Pelatihan tersebut berlangsung sekitar 25 hari kerja, kemudian dilanjutkan dengan uji kompetensi selama dua hari.
BACA JUGA: Kafilah MTQ Nasional XXXI Disebut Kepincut Batik Pewarna Alam Malon Semarang
Widya mengatakan, sertifikasi tersebut menjadi salah satu bentuk pembekalan agar barista penyandang disabilitas memiliki kompetensi yang diakui secara nasional.
Adapun pelatihannya diberikan secara gratis. Selain itu, peserta juga mendapatkan uang saku dan kebutuhan pendukung selama pelatihan.
“Bentuk intervensinya adalah kami memberikan pelatihan itu secara gratis dan ada uang sakunya dan sebagainya, ada konsumsi dan lain-lain,” imbuh Widya.
Program Direplikasi di Mojokerto, Kini Difabis Coffee and Tea Punya Sembilan Cabang
Program pemberdayaan tersebut juga mulai direplikasi di luar DKI Jakarta. Widya mengatakan, pada tahun sebelumnya Baznas Kota Mojokerto bekerja sama dengan Baznas DKI Jakarta untuk membuka cabang Difabis di Kota Mojokerto.
“Baznas Kota Mojokerto dia replikasi program kami, kami kerja sama. Mereka kerja sama dengan DKI untuk membuka cabang Difabis di Kota Mojokerto,” ujarnya.
Dengan tambahan cabang di Mojokerto tersebut, program Difabis kini memiliki sembilan cabang, dengan seluruh pekerjanya merupakan penyandang disabilitas.
Difabis Coffee and Tea Berpeluang Buka Cabang di Jawa Tengah, Tak Terkecuali Kota Semarang
Kehadiran Difabis di Pameran Serambi Nusantara juga membuka peluang coffee shop tersebut hadir di Jawa Tengah, termasuk Kota Semarang.
Widya mengatakan, Baznas DKI Jakarta terbuka untuk berkolaborasi dengan Baznas daerah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, maupun lembaga lain yang ingin mengembangkan Difabis sebagai ruang pemberdayaan penyandang disabilitas.
“Ada besar kemungkinan. Kalau misalkan dari Baznasnya atau dari Pemprov ataupun lembaga-lembaga lain yang mau kolaborasi sama Baznas DKI, kami open banget,” katanya.
“Misalkan, ‘Kak, kami tertarik, kami ada tempat nih, ada space mau buat kafe Difabis untuk pemberdayaan disabilitas di Jawa Tengah’, kami open banget,” sambung Widya.
Bagi Widya, interaksi pengunjung dengan barista Difabis di Pameran Serambi Nusantara tersebut menjadi bagian penting dari tujuan program mereka.
Sebab, Difabis tidak hanya ditujukan untuk memberikan pekerjaan kepada penyandang disabilitas, namun juga menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka kepada masyarakat.
“Jadi kami Baznas DKI itu visinya sebenarnya selain memberdayakan disabilitas, kami juga menyosialisasikan kalau misalkan difabel itu mampu, mereka bisa unjuk gigi,” tutur Widya.
Ia mengungkap salah satu persoalan yang dihadapi penyandang disabilitas adalah kepercayaan diri dan kemandirian.
Karena itu, kesempatan untuk bekerja sekaligus berinteraksi dengan masyarakat dinilai dapat menjadi ruang bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan dan menunjukkan potensi yang dimiliki.
Kehadiran stand Difabis Coffee and Tea pun menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. Di Pameran Serambi Nusantara, pengunjung tidak hanya membeli kopi, namun juga belajar bahasa isyarat secara langsung dari para barista.
“Dengan kayak gini mereka itu mampu share knowledge, ngasih ilmu ke teman-teman. Saya senang juga teman-teman di sini bertumbuh, kami pun bertumbuh, semua masyarakat bertumbuh bareng-bareng,” ujarnya.
Widya mengaku senang melihat antusiasme pengunjung di Kota Semarang yang ingin mengenal lebih jauh tentang disabilitas maupun bahasa isyarat.
“Senang banget kalau misalkan ada yang mau belajar. Jadi di sini bukan kopi aja, tapi ruang belajar bersama, ruang bertumbuh bersama. Kalau misalkan mau belajar-belajar tentang kopi juga boleh, tentang bahasa isyarat, tentang disabilitas juga,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





