Kemudian, program Pak Rahman dan BUMP (Badan Usaha Milik Petani) dinilai turut menyejahterakan petani. Jika biasanya dalam setahun hanya empat kali expo, maka melalui Pak Rahman, dapat terjadi 124 expo.
“Sekali expo pasti ada penjualan beras 1 ton, harga di bawah pasaran selisih hingga Rp2 ribu. Makanya kami sebut ‘ibunya’, karena tidak sekat dengan kami para petani,” tegas Marzuki.
Melihat antusias masyarakat, Marzuki mengaku bangga dan senang. Hal ini karena kondisi perekonomian yang tidak stabil dengan adanya gejolak harga tinggi. Namun kala itu program ini benar-benar membantu masyarakat.
“Itu jadi kepuasan tersendiri bagi Ibu (Mbak Ita) dan kami,” Kata Marzuki.
Kemudian, soal bantuan petani di masa kepemimpinan Mbak Ita, ia menyebut juga cukup banyak. “Impian bu Walikota, pangan di kota Semarang harus tersedia, terjangkau harganya dan bagus kualitasnya dengan program Lumpang Semar di setiap kelurahan di Kota Semarang,” Imbuhnya.
Pada masa Mbak Ita, Kios Lumpang Semar yang menjual produk petani di bawah harga pasar ini telah berdiri 60 kelurahan yang telah berjalan dari 177 kelurahan.
“Kami dengan ibu Walikota, petani seperti tidak ada jarak. Saya SMS jam 2 malam juga langsung di balas. Biasanya saat berkunjung juga mengulik kebutuhan-kebutuhan petani. Itulah kenapa beliau ini ibunya petani,” Sebutnya.
Bahkan ada bantuan CSR yang dicarikan dari Bank Jateng berupa Green House untuk memfasilitasi petani milenial.
“Karena di nilai Pak Rahman berhasil, bahkan bukan cuma di kelurahan tapi di masjid, vihara, gereja, termasuk pabrik kami lakukan. Itu jadi nilai plus Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melihat kami, termasuk bu Ita menyoundingkan kami dengan Bank Indonesia. Dari situlah kami dapat banyak bantuan-bantuan,” imbuh dia.
Semarang bahkan jadi kota terinovatif dalam gelaran pangan murah, dan menjadikan Hevearita Gunaryanti Rahayu mendapat penghargaan sebagai walikota terinovatif.
“Semua fasilitas kemudian diberikan dari BI, mulai dari mobil, gudang, ada dryer yang semua demi ketersediaan sistem pangan kota Semarang,” jelasnya.





