Jateng

El Nino Picu Kemarau Lebih Panjang, Dinkes Jateng Ingatkan Ancaman ISPA hingga Heat Stroke

×

El Nino Picu Kemarau Lebih Panjang, Dinkes Jateng Ingatkan Ancaman ISPA hingga Heat Stroke

Sebarkan artikel ini
Dokter Puskesmas | Kasus HIV
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab, memberikan keterangan kepada awak media di kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Jumat, 26 Juni 2026. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

“DBD itu tidak identik dengan musim hujan. DBD malah meningkat pada peralihan dari musim hujan ke musim kemarau seperti saat ini,” imbuhnya.

BACA JUGA: Fenomena Godzilla El Nino Picu Cuaca Ekstrem April 2026, Begini Penjelasannya

Kondisi kering dan banyaknya debu pada udara juga dapat mengganggu kesehatan mata. Masyarakat berisiko mengalami iritasi mata hingga konjungtivitis atau yang umum disebut belekan.

Masalah kulit juga dapat meningkat akibat cuaca panas. Keringat berlebih membuat kondisi kulit lebih lembap sehingga memicu pertumbuhan jamur dan berbagai gangguan kulit.

“Karena kulit juga akan meningkat, dermatitis. Orang berkeringat, jamur muncul di mana-mana, infeksi jamur karena kelembapan akibat keringat yang banyak,” ujarnya.

El Nino, waspada pingsan akibat kepanasan

Cuaca panas juga meningkatkan risiko dehidrasi hingga heat stroke atau kondisi serius akibat tubuh mengalami peningkatan suhu secara berlebihan.

Zulfachmi mengingatkan masyarakat yang banyak beraktivitas di luar rumah agar mencukupi kebutuhan cairan. Menurutnya, aktivitas luar ruangan selama musim kemarau membuat tubuh lebih mudah kehilangan cairan.

“Yang paling banyak itu pingsan akibat kepanasan, heat stroke namanya. Dehidrasi juga bisa. Kalau banyak aktivitas ke mana-mana dan tidak minum, bisa pingsan gara-gara kurang cairan,” ungkapnya.

Ia meminta masyarakat mengimbangi aktivitas luar ruangan dengan konsumsi air yang cukup. Dampak cuaca panas juga dapat terasa pada kesehatan mulut, seperti sariawan dan bibir pecah-pecah.

Zulfachmi menyebut ISPA secara umum masih menjadi salah satu penyakit dengan kasus tinggi di Jawa Tengah. Sementara itu, kasus diare cenderung tidak banyak berubah, namun berpotensi meningkat ketika memasuki musim kemarau.

BACA JUGA: Antisipasi Dampak El Nino, Kementerian Pertanian Perluas Areal Tanam di Daerah Jateng

Peningkatan penyakit tersebut, lanjutnya, dapat terjadi di seluruh wilayah Jawa Tengah yang terdiri dari 35 kabupaten/kota.

Namun, wilayah dengan kondisi lingkungan yang lebih kering juga berpotensi menghadapi risiko peningkatan penyakit.