SEMARANG, beritajateng.tv – Beberapa terakhir ini Eropa mendadak jadi sorotan dunia karena cuaca ekstrem yang terjadi di negara tersebut.
Gelombang panas yang menyebabkan hampir separuh dari 850 kota besar kini harus menghadapi kondisi tingkat stres panas tertinggi dalam sejarah.
Para ilmuan menyebutkan bahwa fenomena tersebut kemungkinan besar terjadi lantaran adanya krisis iklim dari pembakaran bahan bakar fosil.
Selai itu, bagian wilayah Eropa Barat melaporkan informasi terkini yakni adanya lonjakan drastis dalam kasus darurat medis. Bahkan viral di berbagai sosial media yang menunjukkan angka kematian cukup tinggi di wilayah tersebut.
BACA JUGA: Cuaca Wisata Jateng 30 Juni-1 Juli 2026: Lawang Sewu Terpanas, Gedong Songo dan Saloka Paling Sejuk
Gelombang Panas di Eropa
Analisis terbaru juga menunjukkan betapa cepatnya suhu ekstrem ini terjadi lantaran menumpuknya polusi karbon yang ada di Bumi.
Apabila kita coba bandingkan dengan gelombang panas yang pernah terjadi pada tahun 1976. Angkanya masih kalah jauh dan terbilang sejuk dari fenomena yang terjadi sekarang, saat itu suhu hanya mencapai 3,5 derajat Celcius.
Menghadapi adanya fenomena yang terjadi di Eropa, beberapa ilmuan memperingatkan bahwa kemungkinan adanya kondisi lebih ekstrem di masa depan.
“Ini adalah gelombang panas paling parah dan meluas yang pernah melanda wilayah sebesar ini di Eropa,” kata Theodore Keeping, peneliti cuaca ekstrem dari Imperial College London.
Dalam penelitian yang berlangsung oleh World Weather Attribution (WWA) memanfaatkan data suhu aktual serta prakiraan cuaca berakurasi tinggi untuk mengkaji tiga hari dengan suhu paling ekstrem.
Suhu ekstrem tersebut berada di kawasan Eropa yang sedang berada di bawah pengaruh fenomena heat dome atau kubah panas.
Melalui serangkaian analisis ilmiah yang ketat, para peneliti menyimpulkan bahwa perubahan iklim merupakan faktor utama yang memperparah gelombang panas yang kini melanda wilayah tersebut.
WWA juga menegaskan bahwa peristiwa ini tidak dapat dijelaskan hanya sebagai bagian dari siklus cuaca alami.
BACA JUGA: Cuaca Wisata di Jateng Hari Ini 27 Juni 2026, Cek Sebelum Liburan!
Para peneliti membantah anggapan yang mengaitkan gelombang panas tersebut semata-mata dengan variasi iklim alami. Termasuk pengaruh fenomena El Nino yang sedang berkembang di kawasan Samudra Pasifik.
Menurut para ilmuwan, keberadaan sistem tekanan tinggi yang menjebak udara panas di atas Eropa sekaligus membawa aliran udara hangat dari Gurun Sahara sebenarnya merupakan pola yang umum terjadi saat musim panas.
Cuaca Ekstrem
Namun, kondisi tersebut kini menghasilkan suhu yang jauh lebih tinggi dibandingkan biasanya karena dipicu oleh dampak pemanasan global yang terus meningkat.
Sementara itu, Carolina Pereira Marghinda dari Red Cross Red Crescent Climate Centre menjelaskan bahwa sejak gelombang panas besar melanda Eropa pada 2003.
Banyak negara telah mengalokasikan investasi untuk memperkuat sistem peringatan dini serta menyusun berbagai strategi mitigasi.
Upaya tersebut terbukti mampu mengurangi jumlah korban jiwa dalam berbagai peristiwa cuaca ekstrem. Meski demikian, menurutnya, intensitas gelombang panas yang semakin meningkat.
Hal itu karena akibat perubahan iklim membuat langkah-langkah yang ada saat ini tidak lagi cukup untuk menghadapi risiko yang terus bertambah. (*)





