Viral

Eropa Hadapi Gelombang Panas Terparah Dalam Sejarah, Begini Alasannya

×

Eropa Hadapi Gelombang Panas Terparah Dalam Sejarah, Begini Alasannya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi matahari. (Pexels/Pixabay)
Ilustrasi matahari. (Pexels/Pixabay)

SEMARANG, beritajateng.tv – Beberapa terakhir ini Eropa mendadak jadi sorotan dunia karena cuaca ekstrem yang terjadi di negara tersebut.

Gelombang panas yang menyebabkan hampir separuh dari 850 kota besar kini harus menghadapi kondisi tingkat stres panas tertinggi dalam sejarah.

Para ilmuan menyebutkan bahwa fenomena tersebut kemungkinan besar terjadi lantaran adanya krisis iklim dari pembakaran bahan bakar fosil.

Selai itu, bagian wilayah Eropa Barat melaporkan informasi terkini yakni adanya lonjakan drastis dalam kasus darurat medis. Bahkan viral di berbagai sosial media yang menunjukkan angka kematian cukup tinggi di wilayah tersebut.

BACA JUGA: Cuaca Wisata Jateng 30 Juni-1 Juli 2026: Lawang Sewu Terpanas, Gedong Songo dan Saloka Paling Sejuk

Gelombang Panas di Eropa

Analisis terbaru juga menunjukkan betapa cepatnya suhu ekstrem ini terjadi lantaran menumpuknya polusi karbon yang ada di Bumi.

Apabila kita coba bandingkan dengan gelombang panas yang pernah terjadi pada tahun 1976. Angkanya masih kalah jauh dan terbilang sejuk dari fenomena yang terjadi sekarang, saat itu suhu hanya mencapai 3,5 derajat Celcius.

Menghadapi adanya fenomena yang terjadi di Eropa, beberapa ilmuan memperingatkan bahwa kemungkinan adanya kondisi lebih ekstrem di masa depan.

“Ini adalah gelombang panas paling parah dan meluas yang pernah melanda wilayah sebesar ini di Eropa,” kata Theodore Keeping, peneliti cuaca ekstrem dari Imperial College London.

Dalam penelitian yang berlangsung oleh World Weather Attribution (WWA) memanfaatkan data suhu aktual serta prakiraan cuaca berakurasi tinggi untuk mengkaji tiga hari dengan suhu paling ekstrem.

Suhu ekstrem tersebut berada di kawasan Eropa yang sedang berada di bawah pengaruh fenomena heat dome atau kubah panas.

Melalui serangkaian analisis ilmiah yang ketat, para peneliti menyimpulkan bahwa perubahan iklim merupakan faktor utama yang memperparah gelombang panas yang kini melanda wilayah tersebut.

WWA juga menegaskan bahwa peristiwa ini tidak dapat dijelaskan hanya sebagai bagian dari siklus cuaca alami.