Gaya Hidup

Fashion Show Batik di Lapas Perempuan Semarang, Simbol Harapan dan Kemandirian

×

Fashion Show Batik di Lapas Perempuan Semarang, Simbol Harapan dan Kemandirian

Sebarkan artikel ini
Fashion Show Batik di Lapas Perempuan Semarang, Simbol Harapan dan Kemandirian
Mantan Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu unjuk kebolehan dalam Fashion Show Batik di Lapas Perempuan Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

Melalui pembinaan di bidang membatik dan industri kreatif. Warga binaan mendapat bekal keterampilan, kepercayaan diri, dan identitas baru sebagai pribadi yang berdaya.

“Fashion show ini bukan sekadar menampilkan karya. Tetapi membangun rasa bangga dan harapan agar warga binaan siap berperan positif setelah bebas,” ungkapnya.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya acara tersebut.

Ia menyebut fashion show ini bukan sekadar peragaan busana, melainkan wujud cinta, empati, dan kepedulian terhadap perempuan, khususnya para ibu.

“Acaranya luar biasa. Ini peragaan busana yang bergengsi karena melibatkan desainer berkualitas dan talenta terbaik Kota Semarang. Pada momen seperti ini kita melihat betapa kuatnya rasa cinta kepada ibu yang terwujud melalui karya,” ujar Agustina.

Ia juga mengapresiasi peran Kepala Lapas Perempuan Bulu Semarang yang di nilai berhasil membangun ekosistem pembinaan yang aman dan produktif.

“Lingkungan yang mendukung membuat warga binaan mampu berkarya dan memiliki harapan. Ketika nanti kembali ke masyarakat, mereka sudah lebih siap. Selamat Hari Ibu, dan penghargaan setinggi-tingginya bagi ibu-ibu hebat di balik acara ini,” tambahnya.

Bentuk Pembinaan Konkret dan Berkelanjutan

Sementara itu, Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menilai fashion show batik di lapas merupakan bentuk pembinaan yang konkret dan berkelanjutan.

Ia menekankan pentingnya menjadikan pembinaan sebagai proses profesional, bukan sekadar pelatihan sesaat.

“Pembinaan tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan. Karya harus dipasarkan dan diasah secara profesional. Jika tidak, saat mereka keluar nanti, semuanya akan kembali dari nol,” kata Samuel.

Menurutnya, batik hasil karya warga binaan justru memiliki keunggulan karena eksklusivitas dan cerita di balik proses pembuatannya. Ia mendorong agar warga binaan menjadi bagian dari rantai produksi industri fashion nasional.

“Mereka bisa masuk sebagai supporting system, mulai dari pengerjaan pola, pemotongan, sulam, hingga finishing. Warga binaan punya keunggulan karena bisa fokus bekerja tanpa distraksi,” jelasnya.