Suri mengatakan, tarot memiliki batas. Pembacaan lebih dia arahkan pada persoalan personal atau hubungan seseorang dengan orang-orang di sekitarnya.
Katanya, tarot bukan media untuk menjawab pertanyaan besar mengenai masa depan suatu negara atau persoalan yang berada di luar ranah personal.
Datang dengan Pertanyaan, Pulang Membawa Refleksi
Pengalaman Suri dengan tarot, telah dia mulai sejak 2018 atau 2019. Akan tetapi, dia baru kembali aktif menjadi tarot reader pada Juli 2026.
Latar belakangnya sebagai desainer dan seniman membuatnya tertarik melihat tarot dari sisi simbol dan visual. Dia juga pernah mempelajari semiotika visual yang membahas mengenai tanda.
“Tarot ini masih ada relasinya dari pendidikan aku sebelumnya. Oleh karena ada yang namanya semiotika visual, di mana kita mempelajari tanda,” katanya.
BACA JUGA: Dari Bungkus Pakan Anabul, jadi Kerajinan Eco Handbag Bermotif Geometri Ala Squid Game
Dia kemudian mempelajari tarot melalui berbagai kelas daring, buku dan sumber pembelajaran lainnya sebelum mempraktikkannya kepada keluarga serta teman.
Saat ini, Suri melayani tarot reading di Gramedia Jalma Semarang setiap Rabu hingga Jumat pukul 18.00-21.00 WIB.
Querent yang datang pun tidak berasal dari satu kelompok usia. Di lokasi tersebut, ia banyak bertemu perempuan muda yang baru lulus SMA, mahasiswa, hingga mereka yang baru menyelesaikan KKN.
Sementara querent yang sudah bekerja umumnya datang dengan pertanyaan berbeda. Mereka lebih banyak membahas lingkungan pekerjaan, pilihan merantau, karier, hingga arah hidup setelah memasuki dunia profesional.
Bagi Suri, respons querent setelah sesi menjadi bagian penting dari praktik tarot. Ada yang merasa lega setelah mendapatkan perspektif baru, meski jawaban yang muncul tidak selalu sesuai harapan.
“Ada yang datang merasa lega. Kadang orang konsultasi tarot itu mencari jawaban meskipun jawabannya pahit,” katanya. (*)
Editor: Diaz A Abidin





