Gaya Hidup

Generasi Strawberry: Fenomena Anak Muda yang Dinilai Lembek dan Ini Kata Pakar Psikologi

×

Generasi Strawberry: Fenomena Anak Muda yang Dinilai Lembek dan Ini Kata Pakar Psikologi

Sebarkan artikel ini
generasi strawberry
Ilustrasi. Tidak semua generasi milenial termasuk dalam kategori generasi strawberry. Sumber: freepik.

SEMARANG, beritajateng.tv – Generasi Strawberry, istilah yang menggambarkan anak muda yang rentan terhadap stres dan tekanan emosional. Istilah ini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat.

Istilah strawberry generation sendiri menggambarkan sebagian generasi baru yang lunak seperti buah strawberry. Pemilihan buah strawberry ini karena buah strawberry itu tampak indah dan eksotis, tetapi mudah hancur.

Pradipta Christy Pratiwi, M.Psi., Psikolog, dosen psikologi Universitas Negeri Semarang (Unnes) memberikan pendapatnya tentang fenomena ini.

Ia sendiri kurang setuju dengan penggunaan istilah generasi strawberry untuk menggambarkan kondisi generasi anak muda saat ini. Menurutnya, generasi anak muda saat ini memiliki banyak potensi.

Terlebih, menurutnya generasi saat ini memiliki tantangan yang lebih besar daripada generasi sebelumnya.

Ia mencontohkan, generasi saat ini harus mampu menghadapi berbagai macam gangguan seperti notifikasi gadget, tayangan televisi, dan sebagainya. Gangguan-gangguan seperti itu tentu tidak ada pada generasi terdahulu.

“Justru menurut saya generasi sekarang generasi yang tangguh dengan sedemikan kompleksnya kehidupan. Manusia yang harus beriringan dengan kemajuan teknologi yang ada,” katanya.

Generasi Strawberry, Care dengan Kesehatan Mental

Dipta menyadari bahwa generasi strawberry saat ini semakin peduli dengan kesehatan mental. Dan itu merupakan awal yang baik untuk kemudian paling tidak dapat menjaga kondisi mental sendiri.

“Karena sudah menyadari kesehatan mental itu penting, mengukur diri artinya kenalilah dirimu, apa saja yang disukai, apa yang kamu mampu, apa yang perlu kamu kembangkan, walaupun menghadapi tantangan dan itu rasanya berat, kalau masih bisa dilakukan sendiri, silakan untuk memacu perkembangan diri,” jelasnya.

Namun, ia memberikan pesan agar generasi muda untuk tidak mudah self-diagnosis. Ketika merasa mengalami suatu kondisi yang tidak menyenangkan dan merasakan emosi negatif yang sudah tidak bisa terkendali oleh diri sendiri, maka seharusnya mencari bantuan psikologis kepada professional psikologi, seperti psikolog dan psikiater.

Saat ini, sudah banyak bantuan psikologis yang tersedia di luar sana, baik yang berbentuk konsultasi tatap muka, video konseling, maupun via chat.

Beberapa perguruan tinggi, tak terkecuali Unnes Semarang bahkan turut menyediakan beberapa layanan psikologis baik konseling maupun psikoterapi yang tentunya bisa membantu dalam menjaga kesehatan mental (*).

Editor: Andi Naga Wulan. 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp