HeadlineJatengNews UpdatePendidikan

Giatkan Urban Farming, Pemkot Manfaatkan Lahan Sempit Sekolah dan Perkantoran

×

Giatkan Urban Farming, Pemkot Manfaatkan Lahan Sempit Sekolah dan Perkantoran

Sebarkan artikel ini
Ketua DPRD Kota Semarang Kadarlusman, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Hernowo Budi Luhur dan Direktur Yayasan Obior Indonesia, Pratomo menjadi pembicara dalam acara Jateng Talk di Tandur Space Café, Kamis (9/3/2023). (Ellya - beritajateng.tv)

“Ada metode smart farming, dimana memadukan pertanian dengan teknologi, bisa menyiram sendiri pakai smart phone dan lainnya, intinya adalah anak muda bisa suka dulu, termasuk anak-anak dimana urban farming dimasukkan dalam kurikukulm belajar merdeka,” tuturnya.

Urban farming kata dia, juga mengenalkan budaya hidup sehat, dimana hasilnya bisa digunakan sendiri. Jika memang surplus, hasil pertanian bisa dijual lagi ketetangga sekitar sehingga bisa mendapatkan tambahan untuk perekonomian.

“Intinya adalha ketahanan pangannya dapat, lalu sektor ekonominya juga dapat. Dari hasil urban farming ini juga bisa menekan laju inflasi,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Semarang, Kadar Lusman menjelaskan, adanya program urban farming ini mampu menjamin ketersediaan pangan di Kota Semarang. Apalagi saat ini kondisi cuaca ekstrim, sedikit banyak berpengaruh pada kondisi tanah atau lahan, dan hasil pertanian.

“Sebagai kota Metropolitan, Semarang ini hebat, karena masih punya lahan pertanian dan masih produktif hal ini juga harus ditingkatkan salah satunya melalui urban farming,” tuturnya.

Pilus begitu dia disapa, menjelaskan, karena cuaca ekstrim, selain membuat hasil pertanian berkurang, juga membuat lahan produktif berkurang. Misalnya di wilayah Tugu dan sekitanya, lahan pertanian terpengaruh air asin sehingga tidak bisa ditangani.

Politikus PDI-Perjuangan ini meminta agar Pemkot bisa mengantisipasi fenomena alam ini agar lahan pertanian produktif tidak hilang.

“Pemkot harus bisa mengatasi ini, bagaimana Dinas Pertanian bisa koordinasi dengan DPU agar air laut tidak masuk ke lahan pertanian,” katanya.

Gebrakan urban farming, lanjut Pilus, sangat luar biasa. Bahkan ia menyebut banyak yang menjadi korban virus dan sosialiasi tersebut.

Ia pun melihat antusias masyarakat untuk turut serta menanam, dan belajar pertanian dengan memanfaatkan lahan yang ada. Tujuannya tak lain adalah untuk stok atau cadangan pangan kedepan, ditengah kondisi cuaca ekstrim.