SEMARANG, beritajateng.tv – Ajang Fatmawati Trophy 2026 Regional VII Jateng-DIY berlangsung di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang, Jumat, 14 Agustus 2026 malam. Kompetisi kebaya tersebut tidak hanya menjadi ruang bagi desainer daerah menunjukkan kreativitas, namun juga membawa kembali sosok Fatmawati sebagai inspirasi bagi perempuan Indonesia.
Fatmawati yang juga dikenal sebagai penjahit Bendera Pusaka sekaligus Ibu Negara pertama Indonesia itu diharapkan dapat menjadi teladan bagi generasi muda.
Ketua Bidang Perempuan dan Anak DPP PDI Perjuangan, Bintang Puspayoga, mengatakan Fatmawati Trophy untuk kembali mengenalkan semangat perjuangan, ketangguhan, dan kesederhanaan yang Fatmawati miliki kepada perempuan Indonesia.
“Alasan mengapa Fatmawati Trophy ini DPP PDI Perjuangan inisiasi adalah karena kita ingin menghadirkan sosok perempuan terbaik yang pernah bangsa Indonesia miliki. Beliau adalah penjahit bendera pusaka sekaligus Ibu Negara pertama,” tutur Bintang.
BACA JUGA: Daftar 3 Wisata Taman Bermain dan Edukasi Modern di Semarang, Cocok Kamu Kunjungi Saat Libur Sekolah
Bintang menuturkan, semangat tersebut sengaja terbawa melalui kompetisi yang berlangsung secara berjenjang hingga tingkat regional dan nantinya menyasar masyarakat di tingkat akar rumput.
“Kita menginginkan para perempuan Indonesia bisa mewarisi api semangat perjuangan, ketangguhan, dan kesederhanaan beliau. Itulah yang kita harapkan dari ajang ini,” katanya.
Fatmawati Trophy Angkat Kebaya dengan Sentuhan Kekinian
Pemilihan kebaya sebagai bagian utama kompetisi juga tidak terlepas dari sosok Fatmawati. Bintang mengatakan, Fatmawati dikenal sebagai perempuan yang memiliki perhatian terhadap busana ketika mendampingi Presiden Soekarno.
“Kalau kita melihat rekam jejaknya, Ibu Fatmawati ini juga sosok perempuan yang fashionable. Desain-desain pakaiannya ketika mendampingi Bung Karno sebagai Ibu Negara itu luar biasa anggun,” tuturnya.
Namun, Bintang menegaskan karya yang tertampilkan dalam Fatmawati Trophy tidak harus meniru busana Fatmawati pada masa lalu. Menurutnya, peserta justru didorong menghadirkan inovasi kebaya yang sesuai perkembangan zaman, tetapi tetap mempertahankan identitas Indonesia.





