SEMARANG, beritajateng.tv – Merajut mungkin identik dengan kegiatan para orang tua. Namun saat ini kegiatan merajut semakin diminati oleh anak muda, khususnya kaum hawa.
Salah satu anak muda yang gemar merajut adalah Cindy Juliana. Alumni Poltekkes Solo tersebut sudah menggeluti dunia merajut sejak pertengahan tahun 2021 lalu.
Berawal dari banyaknya waktu luang lantaran Pandemi Covid-19, Cindy yang bosan di rumah saja lantas ingin mencari kegiatan baru.
“Dulu tau dari Youtube, di home page ada tutorial gitu, jadi penasaran pengen coba. Ditambah dulu pas masa Covid kan, banyak waktu luang di rumah buat belajar hobi baru,” katanya kepada beritajateng.tv, Jumat 3 November 2023.
Tak butuh waktu lama, Cindy hanya menghabiskan kurang dari satu bulan untuk mempelajari berbagai teknik merajut. Menurutnya, hal yang paling susah dalam merajut adalah konsistensi untuk menyelesaikan satu produk.
Adapun beberapa produk yang ia hasilkan hingga saat ini antara lain baju, cardigan, topi, bonnet atau topi bayi, hingga tas.
“Sekarang merajut buat ngisi waktu luang dan ngurangin stress, kadang bikin sesuatu juga kayak topi dan baju buat diri sendiri. Kalau ada waktu luang aku juga ngerajut buat gift ke temen atau saudara,” lanjutnya.
BACA JUGA: Kamu Jago Motret dan Ngerekam? Ini 4 Tips Memulai Bisnis Fotografi dan Videografi Pernikahan
Sementara itu, Cindy tidak menampik bahwa hobi merajut berpeluang menjadi penghasilan tambahan. Namun demikian, ia masih merasa belum menemukan pasar untuk produk rajutan buatannya.
“Sebenarnya berniat jualan, tapi aku rasa belum nemu pasarnya. Karena rajutan ini harganya mahal, aku nggak mau jual dengan harga murah,” ungkapnya.
Kirim syal ke luar negeri
Berbeda dengan Cindy yang masih belum menjual hasil rajutannya, Alifah Moedmainah telah lebih dulu memasarkan produk buatannya. Bahkan, beberapa waktu yang lalu ia sempat mengirim syal rajut ke London.
“Awalnya karena saya tidak suka kerja kantoran, tapi saya ingin sambil kerja sambil ngasuh anak. Cari-cari info, salah satu yang bisa dilakukan di rumah adalah ngerajut. Sekarang udah jadi pekerjaan,” katanya.
Kendati demikian, ia mengaku bahwa produk rajut memiliki kelasnya tersendiri. Pembelinya sendiri didominasi oleh ibu-ibu dengan ekonomi kelas menengah keatas.
Menurutnya, hal tersebut lantaran tidak semua orang mengerti seni yang ada pada produk rajut. Baginya, kelebihan produk rajutan adalah proses pembuatannya yang satu persatu sehingga kecil kemungkinan untuk menemukan model yang sama pada orang lain.
“Produk rajut kan handmade, bahkan konsumen bisa request warna, ukuran, motif, otomatis harganya sedikit lebih mahal. Biasanya yang beli memang orang yang ngerti, buatnya butuh waktu butuh kreasi,” imbuhnya.
BACA JUGA: Gadis Kretek Netflix: Bisnis Keluarga Pasca Penjajahan Belanda yang Seru
Saat ini, beberapa produk rajut yang Alifah pasarkan antara lain bros, connector masker, sarung botol, dompet, dompet koin, kantong hp, tas tablet, tas jinjing, taplak meja, hingga tas ransel. Adapun harga yang ia tawarkan mulai dari Rp10 ribu hingga Rp600 ribu.(*)
Editor: Farah Nazila





