SEMARANG, beritajateng.tv – Kasus pembunuhan dan mutilasi dalam kasus mayat dicor yang terjadi awal pekan lalu masih menggemparkan masyarakat.
Yang tak kalah mencengangkan, tersangka Muhammad Husen malah menampilkan gaya santai dan bercanda saat konferensi pers di Polrestabes Semarang. Pelaku kasus mayat dicor, Husen juga mengaku tak menyesal dan merasa puas membunuh karena dendamnya terlampiaskan.
BACA JUGA: Video Usai Eksekusi, Husen Pelaku Mutilasi Pakai Uang Bosnya untuk Main Wanita
Kemudian, bagaimana kasus ini dari kacamata psikologis? Apa yang sebenarnya terjadi pada pelaku pembunuhan sehingga muncul reaksi tersebut?
Menurut Psikolog Klinis, Aprilia Subandriyo, beberapa perilaku yang tergambar dari pelaku dalam konferensi pers dapat tergambar dari dunia psikologis. Bukan psikopat, namun April menyebutnya sebagai gangguan kepribadian disosial.
“Sebenarnya kalau untuk di psikologi sendiri, dalam panduan PPDGJ (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa), istilah psikopat itu tidak ada. Yang mendekati itu gangguan kepribadian disosial. Secara sekilas memang beberapa ciri-ciri sikap tersangka yang memenuhi gangguan kepribadian tersebut,” kata April kepada beritajateng.tv, Jumat 12 Mei 2023.
BACA JUGA: Video Pengakuan Mencengangkan Husen, Pelaku Mutilasi dan Cor Mayat di Tembalang
Gangguan kepribadian tersebut, jelas April, memiliki beberapa ciri. Yang pertama, toleransi terhadap rasa frustasi dan kecewa yang rendah sehingga mudah marah.
Yang kedua, cenderung bersikap agresif dan melakukan kekerasan. Selain itu, tidak merasa bersalah setelah melakukan tindakan kejahatan juga termasuk ke dalam ciri-ciri gangguan kepribadian tersebut.
“Secara sekilas, dari video press conference memang tidak ada rasa bersalah. Selain itu ia juga menyalahkan orang lain dan merasionalisasi tindakannya,” lanjutnya.
Pelaku Kasus Mayat Dicor dalam Tahap Bersuka Cita Lampiaskan Dendam
Meski begitu, April menegaskan bahwa tidak serta merta seseorang dapat mendapatkan vonis menggidap suatu gangguan kepribadian tertentu. Perlu asesmen secara mendalam untuk melihat perjalanan psikologis seseorang.
“Karena gangguan kepribadian terlihat ciri-cirinya dari masa kecil. Apakah pada saat remaja ia pernah melakukan itu. Sebelum ini apakah ada kejadian-kejadian semacam itu. Hal tersebut yang nantinya bisa menyimpulkan diagnosis,” ujar April.
BACA JUGA: Pelaku Mutilasi dan Cor Mayat di Tembalang Tertangkap, Motifnya Sakit Hati Terhadap Korban
April menilai perilaku Husen selama konferensi pers adalah masa euforia. Menurutnya, Husen masih berada pada tahap bersuka cita karena telah membunuh majikan yang membuatnya sakit hati selama ini.
“Dia masih dalam euforia, dia seneng dan bangga. Tidak menutup kemungkinan setelah ini masa euforia turun dan muncul rasa penyesalan,” imbuh April.
Terakhir, April berharap pihak berwenang dapat memproses pelaku sesuai prosedur hukum serta mempertanggungjawabkan perbuatannya. Selain itu, ia juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan peduli terhadap kondisi psikologis orang lain.
“Saling memanusiakan antara karyawan dan majikan, jangan semena-mena karena kita nggak tahu orang mempunyai beban psikologis seperti apa. Jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi,” pesannya. (*)
Editor: Ricky Fitriyanto





