Dalam penelitian yang telah dilakukan sejak 2011 di Yogyakarta, hasilnya terbukti mengendalikan penyakit DBD hingga berkurang menjadi 70 persen dan jumlah rawat inap turun sekitar 80 persen.
“Dengan wolbachia ini, tidak mengurangi jumlah populasi nyamuk aedes aegypti, kalau nyamuknya mati, ekosistem akan terganggu. Tetapi sebelum dan wolbachia jumlah nyamuknya masih sama. Saya kira environmental ethics (etika lingkungan-red) ini sangat diperhatikan,” katanya.
Menurutnya, masyarakat tidak perlu khawatir dengan penggunaan bakteri wolbachia. Pasalnya, dalam penelitian telah terbukti menurunkan angka kasus DBD.
“Penunjukan Kota Semarang pasti ada alasannya, jumlah kasusnya tinggi. Kemudian populasi masyarakat tinggal di rural (pedesaan-red), di permukiman padat, dan seringkali terjadi banjir, atas dasar itu,” katanya. (*)
Editor: Elly Amaliyah





