PANTURA, beritajateng.tv – Hingga saat ini, pantai utara atau Pantura masih menjadi jalur yang ramai pemudik lintasi selama arus mudik dan balik lebaran Idul Fitri.
Tak lengkap rasanya jika melewati kabupaten/kota di jalur Pantura Jawa Tengah tanpa mencicipi kuliner khasnya.
Jika kamu termasuk pemudik yang melintasi jalur Pantura Jawa Tengah, tak ada salahnya mencicipi lima rekomendasi makanan berikut sembari beristirahat setelah perjalanan panjang.
1. Sate Kambing Khas Tegal
Berbeda dengan sate kambing di wilayah lain, sate kambing Tegal memiliki keunikan tersendiri. Mengutip dari laman jatengprov.go.id, masyarakat Tegal biasanya memilih jenis kambing muda yang berumur 3-5 bulan. Hal itu membuat dagingnya terasa lebih empuk dan nikmat. Tak hanya itu, proses memasaknya pun tidak memakan waktu terlalu lama untuk mempertahankan tekstur juicy dalam sajian tersebut.
Adapun bumbu yang masakan ini masih sama dengan olahan satai pada umumnya, yakni kecap manis. Seporsi sate kambing khas Tegal kemudian tersajikan bersama dengan irisan bawang merah dan tomat segar.
BACA JUGA: Ga Melulu Sop Ayam, Ini 5 Kuliner Mantap yang Wajib Kamu Coba saat Mudik ke Klaten!
Beberapa rekomendasi sate kambing yang ada di Tegal di antaranya adalah Warung Makan Sate Tirus H. Sakya, Warung Sate Kambing Wendy’s, Warung Sate Sari Mendo, dan Warung Sate Cempu Lemu.
2. Soto Tauco Khas Tegal
Melintasi jalur Pantura Jawa Tengah di kala hujan? Soto Tauco Khas Tegal bisa menghangatkan badanmu. Soto tauco khas Tegal identik menggunakan irisan babat. Namun jika tak menyukainya, soto tauco banyak yang menggunakan irisan daging sapi maupun daging ayam.
Seperti namanya, yang membedakan soto tauco dengan soto lainnya adalah adanya tambahan tauco sebelum sajian soto ini tersiram dengan kuah rempah.
3. Sate Blengong dan Kupat Glabed Khas Brebes
Jika Tegal memiliki sate unik dengan kambing pilihannya, Brebes pun tak ingin kalah. Ketika kamu mudik dari arah barat, maka Brebes menjadi wilayah Jawa Tengah pertama yang akan kamu kunjungi. Sate blengong tak bisa kamu lewatkan jika sudah berkunjung ke Brebes.
Blengong merupakan jenis unggas yang serupa dengan menthok maupun bebek. Dalam sajian ini, daging blengong dimasak dengan bumbu rempah berwarna merah dan disajikan dengan cara ditusuk. Uniknya, satai blengong memiliki ukuran yang lebih panjang dibandingkan satai pada umumnya. Harga setiap tusuk satainya memiliki harga mulai dari Rp 6 ribu saja.
Sementara itu, kupat glabed berisikan potongan ketupat yang disiram dengan kuah santan dan memiliki taburan kerupuk yang telah remuk serta bawang goreng. Kupat glabed ini biasa disantap dengan satai blengong telah tersaji di atas meja. Pembeli dibebaskan untuk mengambil sendiri satai blengong tersebut dengan jumlah sesuai selera.
4. Lontong Dekem Khas Pemalang
Bergeser ke Kabupaten Pemalang, lontong dekem bisa kamu jumpai dengan mudah di Kawasan Jalan R.E. Martadinata, Pemalang. Alasan memiliki sebutan nama lontong dekem karena kuliner ini biasanya dimakan secara lesehan yang disebut dengan ndekem.
Biasanya, lontong dekem tersaji di atas daun pisang. Seporsi lontong dekem berisikan irisan lontong dengan siraman kuah kuning dengan cita rasa menyerupai gulai. Tak lupa taburan serundeng kelapa, bawang goreng, serta kerupuk akan menambah gurih dan nikmatnya sajian tersebut.
BACA JUGA: Mudik ke Temanggung? Singgah ke Warung Jadoel, Wisata Kuliner Masa Lalu yang Sudah Berumur Dua Abad
Beberapa warung lontong dekem yang bisa menjadi rekomendasi untukmu di antaranya Lontong Dekem Pak Drajat, Lontong Dekem Pak Darsono, Lontong Dekem Pak Sidul, dan Lontong Dekem Pak Kasirin.
5. Nasi Grombyang Khas Pemalang
Sama halnya dengan lontong dekem, nasi grombyang bisa kamu temukan di Jalan R.E Martadinata, Pemalang. Grombyang merupakan Bahasa Pemalang yang mempunyai arti mengapung atau bergoyang. Memiliki sebutan nasi grombyang karena sajian ini terdiri atas nasi dan irisan daging yang banjir dengan kuah rempah.
Saking uniknya, kuliner yang konon muncul sejak tahun 1960-an ini telah terdaftar sebagai warisan budaya tak benda. Seporsi nasi grombyang dibanderol dengan harga mulai dari Rp 14 ribu saja. (*)
Editor: Farah Nazila





