Menurut perkiraan, peran Mbah Kiai Mergo muncul sekitar 50 tahun setelah Masjid Sekayu berdiri dan mulai berkembang. Masjid yang diyakini telah ada sejak awal abad ke-15 itu menjadi pusat aktivitas keagamaan sekaligus magnet pertumbuhan permukiman baru.
Peran Mbah Kiai Mergo tidak hanya pada penataan wilayah fisik, tetapi juga menjaga keberlanjutan komunitas setelah para tokoh awal tidak lagi berada di kawasan tersebut. Ia menjadi tokoh pemersatu yang memastikan Kampung Sekayu tetap memiliki identitas kuat.
BACA JUGA: Beda Rakaat Bukan Penghalang, Muhammadiyah dan NU Tarawih Bareng di Masjid Sekayu Semarang
Sejarah Kampung Sekayu juga berkaitan dengan keberadaan makam para ulama dan tokoh pendiri kawasan tersebut.
Setelah para ulama dan habib di Semarang melakukan musyawarah terkait perluasan Masjid Sekayu, area makam pendiri, ulama, dan aulia yang sebelumnya berada di sekitar masjid pindah ke sebelah barat masjid, dekat mimbar.
Di lokasi tersebut antara lain terdapat makam Mbah Kiai Kamal, yang masyhur sebagai santri Sunan Gunung Jati.
Namun berbeda dengan tokoh lainnya, makam Mbah Kiai Mergo tetap berada di kawasan Sekayu Kramatjati. Keputusan ini didasarkan pada ijtihad K.H. Munif Muhammad Zuhri atau yang dikenal sebagai Mbah Kiai Munib dari Girikusumo, Mranggen, Kabupaten Demak.
Keberadaan makam tersebut hingga kini menjadi bagian penting dari jejak sejarah Kampung Sekayu sekaligus penanda peran besar Mbah Kiai Mergo dalam perkembangan kawasan tersebut.
Asal-usul Nama Sekayu dan Pembagian Wilayah
Seiring perkembangan waktu, Kampung Sekayu kemudian terbagi menjadi beberapa wilayah seperti Sekayu Kramatjati, Sekayu Tumenggungan, dan kawasan Sekayu lainnya yang masih tersohor hingga sekarang. Pembagian ini berkaitan dengan pertumbuhan keluarga dan komunitas yang berasal dari lingkungan awal sekitar masjid.
“Rumah-rumah di sini [Kampung Sekayu] masih punya ornamen atau simbol kepangkatan yang menghuni dulu. Sekarang kan yang tinggal keturunannnya. Kalau pangkatnga tumenggung, ada simbolnya, patih juga ada [simbol] di atas pintu rumah, simbolnya berbeda-beda sesuai pangkatnya,” jelasnya.





