SEMARANG, beritajateng.tv – Kampung Sekayu di Kota Semarang bukan sekadar kawasan permukiman tua di sekitar Masjid Taqwa Sekayu. Wilayah ini menyimpan jejak sejarah panjang sejak era para wali, yang hingga kini tetap bertahan karena peran tokoh lokal yang mampu menjaga identitas dan tatanan masyarakat. Salah satu figur penting tersebut ialah Mbah Kiai Mergo, sosok yang masyhur sebagai pembabat alas sekaligus penjaga kesinambungan kampung setelah masa para wali.
Dewan Takmir Masjid Sekayu, Achmad Arief, menjelaskan bahwa keberlangsungan Kampung Sekayu tidak lepas dari teladan para Wali Songo yang dahulu ikut membangun masjid dan membentuk lingkungan sosial masyarakat.
BACA JUGA: Berdiri 1413, Masjid Sekayu Semarang dan Jejak Para Wali dalam Sejarah Islam Nusantara
Nilai kepemimpinan para wali itu kemudian tokoh-tokoh lokal teruskan setelah mereka kembali ke aktivitas dakwah masing-masing di wilayah lain.
“Sekayu sampai saat ini bisa bertahan karena para wali yang dulu ikut membangun masjid itu dicontoh oleh lingkungan. Salah satu yang kemudian muncul adalah tokoh lokal, dan itu penting dalam sebuah komunitas,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan figur panutan menjadi faktor utama dalam menjaga identitas suatu wilayah. Tanpa tokoh kehormatan, sejarah keluarga besar atau komunitas bisa hilang karena tidak ada yang merawat warisan narasi beserta nilai-nilainya.
Mbah Kiai Mergo, Babat Alas dan Penata Kampung
Dalam sejarah Kampung Sekayu, nama Mbah Kiai Mergo menempati posisi penting. Ia disebut sebagai sosok yang membabat alas sekaligus menata kawasan permukiman yang berkembang di sekitar masjid.
Saat itu, masyarakat mulai berdatangan dan membangun rumah secara sederhana di sekitar pusat ibadah, sehingga diperlukan figur yang mampu mengatur tata kehidupan sosial.
“Mbah Mergo itu bisa dikatakan yang membabat alas. Ketika Masjid Sekayu berkembang, orang-orang datang dan membangun rumah kecil-kecilan seperti rayap. Beliau yang menata,” jelas Arief.
Menurut perkiraan, peran Mbah Kiai Mergo muncul sekitar 50 tahun setelah Masjid Sekayu berdiri dan mulai berkembang. Masjid yang diyakini telah ada sejak awal abad ke-15 itu menjadi pusat aktivitas keagamaan sekaligus magnet pertumbuhan permukiman baru.
Peran Mbah Kiai Mergo tidak hanya pada penataan wilayah fisik, tetapi juga menjaga keberlanjutan komunitas setelah para tokoh awal tidak lagi berada di kawasan tersebut. Ia menjadi tokoh pemersatu yang memastikan Kampung Sekayu tetap memiliki identitas kuat.
BACA JUGA: Beda Rakaat Bukan Penghalang, Muhammadiyah dan NU Tarawih Bareng di Masjid Sekayu Semarang
Sejarah Kampung Sekayu juga berkaitan dengan keberadaan makam para ulama dan tokoh pendiri kawasan tersebut.
Setelah para ulama dan habib di Semarang melakukan musyawarah terkait perluasan Masjid Sekayu, area makam pendiri, ulama, dan aulia yang sebelumnya berada di sekitar masjid pindah ke sebelah barat masjid, dekat mimbar.
Di lokasi tersebut antara lain terdapat makam Mbah Kiai Kamal, yang masyhur sebagai santri Sunan Gunung Jati.
Namun berbeda dengan tokoh lainnya, makam Mbah Kiai Mergo tetap berada di kawasan Sekayu Kramatjati. Keputusan ini didasarkan pada ijtihad K.H. Munif Muhammad Zuhri atau yang dikenal sebagai Mbah Kiai Munib dari Girikusumo, Mranggen, Kabupaten Demak.
Keberadaan makam tersebut hingga kini menjadi bagian penting dari jejak sejarah Kampung Sekayu sekaligus penanda peran besar Mbah Kiai Mergo dalam perkembangan kawasan tersebut.
Asal-usul Nama Sekayu dan Pembagian Wilayah
Seiring perkembangan waktu, Kampung Sekayu kemudian terbagi menjadi beberapa wilayah seperti Sekayu Kramatjati, Sekayu Tumenggungan, dan kawasan Sekayu lainnya yang masih tersohor hingga sekarang. Pembagian ini berkaitan dengan pertumbuhan keluarga dan komunitas yang berasal dari lingkungan awal sekitar masjid.
“Rumah-rumah di sini [Kampung Sekayu] masih punya ornamen atau simbol kepangkatan yang menghuni dulu. Sekarang kan yang tinggal keturunannnya. Kalau pangkatnga tumenggung, ada simbolnya, patih juga ada [simbol] di atas pintu rumah, simbolnya berbeda-beda sesuai pangkatnya,” jelasnya.
Arief mengibaratkan komunitas Sekayu seperti keluarga besar yang membutuhkan tokoh sentral agar silsilah dan sejarahnya tetap terjaga.
“Kalau dalam keluarga besar tidak ada tokoh, siapa yang membuat nasab dan menjelaskan sejarah? Itu bisa hilang. Tapi di Sekayu masih bisa bertahan,” katanya.
BACA JUGA: Mengenang Perjalanan Nh Dini dari Rumah Masa Kecil di Kampung Sekayu Semarang
Keberadaan Kampung Sekayu juga menjadi contoh bagaimana kekuatan sosial masyarakat dapat menjaga lingkungan dari konflik maupun perubahan yang tidak terkendali.
Dalam perspektif pembangunan modern, kawasan dengan solidaritas tinggi justru memiliki daya tahan lebih kuat ketimbang lingkungan yang masyarakatnya tidak peduli satu sama lain.
Arief menilai nilai kebersamaan itu merupakan warisan langsung dari kepemimpinan tokoh-tokoh terdahulu yang mampu menyatukan masyarakat.
“Lingkungan yang orangnya tak acuh biasanya mudah berubah. Tapi kalau masih ada tokoh dan kepedulian, bisa pertahankan itu,” ungkapnya.
Kini, Kampung Sekayu tidak hanya terkenal sebagai kawasan bersejarah, tetapi juga sebagai ruang hidup yang tetap mempertahankan tradisi dan identitas religiusnya.
Masjid Taqwa Sekayu menjadi simbol kesinambungan sejarah sejak masa para wali hingga generasi sekarang, sementara sosok Mbah Kiai Mergo terkenang sebagai figur penting yang memastikan warisan itu tidak terputus. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





