SEMARANG, beritajateng.tv – Kota Semarang akan memasuki usianya yang ke-477 pada 2 Mei mendatang. Hampir mencapai usia setengah milenium, sejumlah pekerjaan rumah alias PR masih membayangi untuk dibenahi.
Ika Dewi Retno Sari, sejarawan asal Semarang, menilai, HUT Semarang dapat menjadi momentum memperbaiki hal yang sekiranya belum maksimal. Salah satunya soal penataan kota berdasarkan nilai sejarah.
Berbicara tentang Semarang, sebagai seorang sejarawan, Ika tentu fokus pada masa lalu sekaligus kejayaan Semarang yang terkenal sebagai titik kunci dalam penyebaran rempah di Indonesia.
“Kalau kita mau bicara tentang Semarang, Semarang itu sudah menjadi pelabuhan yang dikenal sejak masa lalu, bahkan sebelum periode Islam,” katanya saat beritajateng.tv temui dalam kegiatan Seminar Sejarah Lokal di SMAN 14 Semarang, Jumat, 26 April 2024.
Ika menjelaskan, kejayaan Semarang telah ada jauh sejak zaman kerajaan Hindu dan Islam. Lalu, saat masa kolonial peran Semarang menjadi semakin besar ketika Semarang terpilih oleh VOC menjadi salah satu pusat perdagangan.
BACA JUGA: Menggali Jejak Jalur Rempah di Semarang dengan Menyenangkan ala Anak SMA
Hal tersebut lah yang kini masih terlihat dari banyaknya kantor perdagangan ala Belanda yang masih tersisa di Kawasan Kota Lama.
“Salah satunya untuk aktivitas perdagangan rempah-rempah, misalnya Gedung Oude Trap yang dulunya menjadi gudang rempah-rempah,” sambungnya.
Oleh karenanya, Ia berharap, Semarang akan menjadi salah satu ikon sejarah di tingkat nasional. Terlebih, pemerintah telah menetapkan Kawasan Kota Lama sebagai cagar budaya.
“Tentu saja kami sebagai sejarahwan berharap lokasi itu tidak hanya sekadar tempat singgah pariwisata, tapi juga memberikan edukasi informasi terkait sejarahnya,” harapnya.
Wisata sejarah dan edukasi Kota Semarang
Lebih lanjut, Ika menilai jika saat ini wisatawan yang datang umumnya hanya bisa sebatas menikmati keindahan arsitektur Kota Lama Semarang dengan berswafoto. Padahal, bangunan adalah saksi biru yang menyimpan banyak cerita sejarah Semarang.
Ia menilai, penataan kawasan Kota Lama belum maksimal. Lebih pada penampilan di luar tetapi esensi pengelolaan wisata sejarah dengan menampilkan edukasi masih kurang.
“Ini PR kita semua sebagai warga Semarang bagaimana membuat Semarang dikenal memiliki cerita sejarah yang luar biasa,”
Ika menyebut, jika sekiranya pemerintah ingin menciptakan Kawasan Kota Lama kembali ke era abad ke-17, sebaiknya memperhatikan beberapa kondisi.
“Ini juga jadi keprihatinan kita sejarawan, ada ganjelan kenapa banyak ornamen tambahan yang justru tidak senafas dengan niat awal membangun kawasan Kota Lama sesuai abad 17-18,” bebernya.
BACA JUGA: Menggemaskan dan Kental Budaya Jawa, Puluhan Siswa TK di Kota Semarang Ikuti Lomba Tembang Dolanan
Seperti dengan mencontoh beberapa peninggalan bangunan yang masih tersisa, seperti lampu yang ada di depan Gereja Blenduk.
“Sehingga nafas bahwa Kota Lama kembali dibangun tahun 1700-1800an itu kerasa, kemudian ornamen tambahannya ya diminimalisir karena jadinya tidak bersenyawa,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





