SEMARANG, beritajateng.tv – Kasus kekerasan perempuan dan anak di Jawa Tengah diklaim mengalami penurunan.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), Retno Sudewi, menyebut, sepanjang 2024 terjadi sekitar 800 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 1.100 terhadap anak.
Ia menyebut angka itu mengalami penurunan. Sebab, kata Dewi, sepanjang tahun 2023, jumlah kekerasan terhadap perempuan mencapai 900 dan terhadap anak 1.200 kasus.
“Kalau sepanjang 2024 [jumlah kasus kekerasan perempuan dan anak] di bawahnya. Sampai November 2024, kalau perempuan jadi 800-an, kalau anak 1.100,” ujar Dewi saat beritajateng.tv jumpai di Kantor DP3AP2KB Jawa Tengah, Kota Semarang, Kamis, 19 Desember 2024.
BACA JUGA: DP3AP2KB Jateng Resmikan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak
Dari angka tersebut, Dewi menuturkan 10 hingga 20 persen kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak mencapai ranah hukum dan telah pihaknya tangani, dengan menggandeng Polda, Polres, hingga Kejaksaan.
Tak hanya itu, Dewi membeberkan sebanyak 38 persen kasus kekerasan terhadap perempuan di Jawa Tengah merupakan kekerasan fisik.
Sementara, sebanyak 48 persen kasus kekerasan terhadap anak merupakan kekerasan seksual.
“Kalau untuk perempuan itu terbanyak kekerasan fisik, hampir 38 persen. Kalau anak itu kekerasan seksual, itu sekitar 48 persen, terbanyak. Kita harus prihatin juga. Karena kekerasan anak, kekerasan seksual, bahkan sekarang sudah merambah kekerasan seksual berbasis online, itu yang harus kita waspadai,” tegas Dewi.
Meskipun angkanya turun, Dewi berharap seluruh pihak dapat proaktif dalam mencegah kekerasan.
“Ya semua masyarakat itu harus care jika terjadi kekerasan, mereka harus bisa jadi 2P, pelopor dan pelapor. Pelopor, dia jadi role model dan dia tau kalau misalnya ada kasus kekerasan. Pelapor, dia bisa ikut melaporkan atau sosialisasi, memberi informasi. Jadi semua masyarakat di sini, gak hanya korban, harus care dengan pencegahan kekerasan perempuan dan anak,” ucap dia.
Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), meresmikan gedung kantor Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA), Kamis, 19 Desember 2024.
BACA JUGA: Lewat UPTD PPA, DP3A Kota Semarang Ajak Masyarakat Berani Laporkan Kasus Kekerasan
Dewi menyebut seluruh warga Jawa Tengah dapat mengakses layanan UPTD PPA.
Tak hanya UPTD PPA, Dewi menyebut DP3AP2KB juga memiliki layanan hotline SAPA 129 yang bisa dihubungi oleh perempuan maupun anak korban kekerasan.
“Jadi layanan ini kita mulai dari aduan dulu. Kemudian ada beberapa layanan seperti konsultasi, pendampingan, kan kita juga pendampingan dengan bantuan hukum serta reintegrasi sosial. Kita juga ada kerja sama dengan beberapa OPD seperti rumah sakit, jika butuh tindakan medis kita rujuk ke 7 RS provinsi di Jateng,” jelas Dewi.
Dewi menyebut, psikolog hingga psikolog klinis siap mendampingi korban kekerasan perempuan dan anak yang melapor ke UPTD PPA Jawa Tengah.
“Semua masyarakat bisa mengakses. Tadi kan ada lewat layanan SAPA 129, bisa langsung ke sini atau hotlinenya yang ada di UPTD PPA ini. Jadi di sini teruka, kalau misalnya lewat online kurang jelas, bisa dibantu, karena di sini petugas layanan juga banyak psikolognya, bahkan ada psikolog klinisnya,” pungkas Dewi. (*)
Editor: Farah Nazila





