SEMARANG, beritajateng.tv — Komposer dan produser musik ternama Eka Gustiwana mengungkapkan pandangannya soal fenomena karya viral yang kini kerap dijadikan patokan kesuksesan.
Dalam perbincangannya dalam podcast Raditya Dika, Eka Gustiwana menilai bahwa viralitas sering kali menjadi jebakan yang mereduksi makna sebuah karya seni.
“Sekarang banyak orang bikin sesuatu motivasinya supaya viral. Termasuk musik. Padahal, kalau kita menganggap karya tidak berhasil hanya karena tidak viral, itu sudah sangat melenceng dari nilai seni,” tegas Eka, seperti beritajateng.tv kutip pada Jumat, 29 Agustus 2025.
Seniman Tak Menjadikan Angka Sebagai Patokan
Eka menolak menilai keberhasilan sebuah karya hanya dari angka views atau popularitas. Sebagai seniman, ia lebih fokus pada kualitas dan kedalaman pesan yang terkandung dalam karya tersebut.
“Kalau gue bikin musik, gue lihat dulu lagunya keci enggak? Aransemennya gimana, message-nya nyampe enggak? Viral itu hanya bonus, bukan tujuan utama,” jelas pria kelahiran 1989 tersebut.
BACA JUGA: Ngaku Introvert, Eka Gustiwana Ungkap Kariernya Jadi Content Creator hingga Sukses
Menurut Eka, mengandalkan angka sebagai satu-satunya standar keberhasilan bisa berbahaya karena menciptakan ekspektasi palsu, bahkan tekanan psikologis bagi kreator.
Konten Mendalam Lebih Bernilai daripada Sekadar Viral
Eka Gustiwana juga menyoroti pentingnya koneksi emosional antara konten dan penontonnya. Ia lebih menghargai karya yang punya dampak mendalam, meski hanya ditonton ribuan orang, dibanding karya viral yang menimbulkan kontroversi atau tidak membekas.
“Konten yang ditonton 10.000 orang tapi meninggalkan kesan mendalam, jauh lebih berarti daripada video ditonton sejuta tapi penuh komentar negatif,” ujarnya.
Eka mencontohkan pengalamannya membuat konten bertema Dungeons & Dragons. Meski jumlah penontonnya tidak besar, namun banyak yang datang langsung menyampaikan apresiasi secara personal.
“Ada yang datang ke mal bilang, ‘Terima kasih atas DnD-nya, saya jadi lebih paham soal ini.’ Itu buat gue priceless. Itu yang bikin puas,” kata Eka.
Viralitas Tak Menjamin Keberlanjutan Karier
Lebih lanjut, Eka menjelaskan bahwa viralitas instan tidak menjamin keberlangsungan karier jangka panjang. Ia menekankan pentingnya membangun karya yang autentik dan bisa meninggalkan jejak emosional bagi audiens.
“Kalau lo cuma viral tapi nggak punya ikatan dengan penonton, lo nggak bisa membangun karier yang panjang. Karena lo tidak meninggalkan apa-apa selain angka,” tegasnya.
BACA JUGA: Sinopsis Catatan Harian Menantu Sinting, Fim Raditya Dika dan Ariel Tatum jadi Pasutri yang Lucunya Pake Abis!
Raditya Dika yang mewawancarainya pun setuju dengan pandangan tersebut. Ia mengatakan bahwa apresiasi terhadap karya lebih memuaskan dibanding popularitas sesaat atau sensasi.
“Kalau ada yang datang dan bilang suka sama karya gue, itu yang paling gue hargai,” kata Raditya. Eka pun menimpali, “Berarti lo juga seniman. Karena lo tetap mengutamakan karyanya, bukan sensasinya.” (*)





