Gaya Hidup

KBGO pada Anak: Lingkaran Setan yang Bawa Trauma Membingungkan

×

KBGO pada Anak: Lingkaran Setan yang Bawa Trauma Membingungkan

Sebarkan artikel ini
anak
Ilustrasi anak. (Pexels/Pixabay)

SEMARANG, beritajateng.tv – Di era serba digital ini, Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) semakin marak terjadi. Saat berbicara KBGO, tentu tak lepas dari platform online, dalam hal ini media sosial.

Menurut Dosen Fakultas Psikologi Soegijapranata Catholic University (SCU), CVR Abimanyu, anak-anak, sebagai salah satu pengguna aktif media sosial, menjadi pihak yang paling rentan menjadi korban. Pasalnya, anak-anak belum memiliki kematangan psikologis dan sosial yang memadai.

Oleh karena itu, kata Abimanyu, anak-anak rentan terhadap manipulasi, rayuan, eksploitasi, bahkan penipuan oleh individu yang lebih tua atau lebih matang. Begitu juga dalam kasus KBGO pada anak.

Banyak anak yang tidak memenuhi batas usia tetapi masih menggunakan media sosial. Hal ini tentunya meningkatkan risiko mereka menjadi korban KBGO.

“Setiap anak yang belum memiliki kematangan sosial akan rentan mengalami KBGO, berapapun usianya. Pengawasan orangtua dibutuhkan dalam hal ini, agar dapat membimbing anaknya di dunia online,” kata Abimanyu saat beritajateng.tv hubungi, Sabtu, 29 Juni 2024.

BACA JUGA: Jalan Panjang Pendampingan Korban Kekerasan Online pada Anak

Lebih lanjut, Abimanyu menjelaskan bahwa ada tanda-tanda ketika anak menjadi korban KBGO. Ia menggaris bawahi, tanda tersebut tidak selalu berkaitan dengan aktivitas online.

Misalnya perilaku anak yang berbeda dari biasanya atau adanya gerak-gerik yang mencurigakan.

“Jika anak memiliki perilaku yang berbeda dari biasanya, maka orangtua atau profesional perlu hadir untuk mendampingi. Bisa saja anak mengalami permasalahan terkait KBGO,” sambungnya.

Trauma pada anak lebih kompleks daripada orang dewasa

Mengenai dampak psikologis, menurut Abimanyu, anak-anak bisa mengalami hal yang sama atau bahkan lebih parah daripada orang dewasa. Jika orang dewasa mengalami dampak psikologis seperti stress, depresi, kecemasan, dan trauma, anak anak juga dapat mengalaminya.

Namun demikian, Abimanyu menekankan,m jika ada reaksi trauma yang berbeda pada anak. Sebab, kematangan psikologis anak memang belum sempurna.