Jateng

Kerugian SMA/K Rusak di Jateng Akibat Bencana Tembus Rp1,9 M, Disdikbud Terapkan Blended Learning Bagi Siswa Terdampak

×

Kerugian SMA/K Rusak di Jateng Akibat Bencana Tembus Rp1,9 M, Disdikbud Terapkan Blended Learning Bagi Siswa Terdampak

Sebarkan artikel ini
Guru ASN | disdikbud uswatun hasanah
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah, Uswatun Hasanah, saat dijumpai di kantornya, Kamis, 23 Januari 2025 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – SMA/K negeri maupun swasta se-Jawa Tengah diperkirakan mengalami kerugian mencapai Rp1,9 miliar akibat bencana alam yang melanda sejak Desember 2024 hingga Januari 2025. 

Angka itu terungkap oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah. Secara rinci, angka kerugian yang dialami 29 SMA/K negeri dan swasta se-Jawa Tengah adalah Rp1.934.414.200. 

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Uswatun Hasanah, angka itu cukup besar lantaran bencana alam seperti banjir dan longsor berdampak pada kerusakan infrastruktur. Hal itu Uswatun ungkap saat beritajateng.tv temui di kantornya, Kamis, 23 Januari 2025 sore. 

“Ada yang rugi Rp50 juta, itu di SMKS Nusantara Gubug,” ungkap Uswatun. 

Daftar sekolah dengan kerugian terbanyak, Cilacap sampai Rp1 Miliar, Grobogan ratusan juta rupiah

Berdasarkan data yang beritajateng.tv terima, ada 9 dari 20 sekolah yang mencatat kerugian cukup besar, dari Rp50 juta hingga Rp1 miliar. Adapun kerugian sekolah dengan nominal  terbanyak di alami Cilacap, tersusul oleh Grobogan. 

BACA JUGA: Cek Lokasi Longsor di Petungkriyono Pekalongan, Nana Sudjana: Kebut Penanganan Bencana

Di Cilacap, SMK Negeri Karangpucung mengalami kerugian hingga Rp1 miliar akibat tanah longsor yang memporakporandakan sekolah tersebut. 

Sementara itu, dari total 13 SMA/K di Grobogan yang terdampak bencana alam, ada yang mengalami kerugian hingga Rp300 juta. Kerugian itu banyak di alami oleh SMK, lantaran banyak alat praktik siswa yang terkena bencana. 

Berikut daftar sekolah yang mengalami kerugian cukup besar akibat bencana alam:

1. Cilacap

  • SMK Negeri Karangpucung, total kerugian Rp1 miliar, akibat longsor yang berdampak pada ambruknya gedung dan atap sekolah. 

2. Purworejo 

  • SMKN 2 Purworejo, total kerugian Rp73.414.200 akibat atap seng terlepas dan genteng galvalume bocor di seluruh laboratorium perhotelan. 

3. Grobogan

  • SMKS BP Darul Ulum Rejosari, total kerugian Rp300 juta, banyak ruangan terkena banjir yang mengakibatkan ratusan mesin jahit dan buku di perpustakaan terendam. 
  • SMK Nusantara Gubuh, total kerugian Rp50 juta, akibat banyak ruang kelas hingga bengkel tempat praktik siswa terendam banjir. 
  • SMAS Miftahul Huda Purwodadi, total kerugian Rp50 juta, akibat ruang laboratorium IPA, menjahit, ruang penyimpanan alat tata boga dan OR, hingga ruang TU terendam banjir. 
  • SMKS Gajah Mada Purwodadi, total kerugian Rp50 juta akibat banyak alat praktik siswa yang terdampak, dan
  • SMKS Pembangunan Nasional Purwodadi, total kerugian Rp50 juta akibat ruang laboratoirum hingga lapangan tergenang banjir. 

4. Pemalang

SMAN 1 Belik, total kerugian Rp50 juta akibat banyak atap kelas bocor dan kerusakan selasar parkir siswa.

5. Kota Magelang

SMKS PIUS X Magelang, total kerugian Rp75 juta, akibat tanah longsor di belakang bangunan asrama. Pada Desember 2024, sempat terjadi pohon tumbang yang menyebabkan pagar rusak. 

6. Kota Surakarta

SMAN 8 Surakarta, total kerugian Rp50 juta akibat pagar tembok sekolah roboh yang di duga tidak kuat menahan beban gundukan tanah di luarnya. 

Berdasarkan data tersebut, Cilacap mengalami kerugian terbanyak, disusul oleh Grobogan. Jika di total dengan SMA/K lainnya, jumlah kerugian di Grobogan mencapai Rp660 juta. Sementara di Purworejo kerugiannya mencapai Rp73 juta, Kota Magelang Rp75 juta, Pemalang dan Kota Surakarta Rp50 juta. 

Sekolah rusak akibat bencana, Uswatun terapkan blended learning bagi siswa terdampak

Akibat banyak infrastruktur sekolah yang rusak, Disdikbud Jawa Tengah akan melakukan blended learning atau pembelajaran gabungan. Hal itu diberlakukan lantaran pihaknya memprioritaskan keselamatan siswa. 

“Kalau rumahnya dekat tapi gak terdampak bisa tatap muka, yang jauh bisa zoom. Ketika sarpras belum memungkinkan, yang pertama di selamatkan bukan pembelajaran, tapi orangnya dulu,” terang Uswatun. 

BACA JUGA: BPBD Sebut 200 Lebih Bencana di Jawa Tengah Selama 2024, Banjir dan Tanah Longsor Terbanyak

Blended learning pun berlaku bagi siswa yang rumahnya terdampak bencana, meskipun keadaan sekolahnya baik-baik saja. 

“Ketika ada yang rumahnya jauh, rumahnya terdampak banjir, meskipun sekolah bersih, anaknya terkendala belum bisa sekolah, maka dia bisa ikut pembelajaran jarak jauh,” pungkas Uswatun. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp