Pendidikan

Keutamaan Amalan Bulan Syawal, Lebih Dulu Puasa Syawal atau Pengganti?

×

Keutamaan Amalan Bulan Syawal, Lebih Dulu Puasa Syawal atau Pengganti?

Sebarkan artikel ini
bulan Syawal Makanan Puasa
Ilustrasi orang sahur. (Foto: Freepik)

SEMARANG, beritajateng.tv – Ketika memasuki bulan Syawal, kurang afdhal bagi seorang Muslim bila tidak berpuasa selama enam hari. Bukan tanpa alasan, orang yang berpuasa selama enam hari di Syawal akan mendapat pahala seperti berpuasa selama satu tahun penuh.

Namun, manakah yang lebih dulu? Puasa Syawal atau qadha puasa Ramadhan?

Orang yang memiliki utang puasa Ramadhan harus segera membayar atau meng-qadha utang puasanya. Setelah itu, ia boleh menunaikan puasa Syawal.

Sebagaimana pendapat Al-Khatib As-Syarbini dalam kitab Mughnil Muhtaj pada jilid pertama, orang yang meng-qadha puasa di bulan Syawal tidak mendapatkan keutamaan seperti puasa Syawal. Berikut keterangannya.

ولو صام في شوال قضاء أو نذرا أو غير ذلك ، هل تحصل له السنة أو لا ؟ لم أر من ذكره ، والظاهر الحصول. لكن لا يحصل له هذا الثواب المذكور خصوصا من فاته رمضان وصام عنه شوالا ؛ لأنه لم يصدق عليه المعنى المتقدم ، ولذلك قال بعضهم : يستحب له في هذه الحالة أن يصوم ستا من ذي القعدة لأنه يستحب قضاء الصوم الراتب ا هـ

Artinya:
“Kalau seseorang mengqadha puasa, berpuasa nadzar, atau berpuasa lain di bulan Syawal, apakah mendapat keutamaan sunnah puasa Syawal atau tidak? Saya tidak melihat seorang ulama berpendapat demikian, tetapi secara zahir, dapat. Tetapi memang ia tidak mendapatkan pahala yang dimaksud dalam hadits khususnya orang luput puasa Ramadhan dan mengqadhanya di bulan Syawal karena puasanya tidak memenuhi kriteria. Karena itu sebagian ulama berpendapat bahwa dalam kondisi seperti itu anjurannya untuk berpuasa enam hari di bulan Dzul qa’dah sebagai qadha puasa Syawal.”

Hukum Puasa Sunah di Bulan Syawal Sebelum Qadha Puasa Ramadhan

Bagi orang yang tidak berpuasa Ramadhan tanpa uzur sesuai syariat, haram untuk menunaikan puasa sunnah Syawal. Wajib meng-qadha segera utang puasanya. Sementara orang yang tidak berpuasa Ramadhan karena uzur tertentu, makruh mengamalkan puasa sunnah sebelum menunaikan qadha puasanya.

Sejalan dengan Syamsuddin Ar-Ramli dalam kitab Nihayatul Muhtaj pada jilid ketiga sebagai berikut.

وَقَضِيَّةُ كَلَامِ التَّنْبِيهِ وَكَثِيرِينَ أَنَّ مَنْ لَمْ يَصُمْ رَمَضَانَ لِعُذْرٍ أَو سَفَرٍ أَوْ صِبًا أَوْ جُنُونٍ أَوْ كُفْرٍ لَا يُسَنُّ لَهُ صَوْمُ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ . قَالَ أَبُو زُرْعَةَ : وَلَيْسَ كَذَلِكَ : أَيْ بَلْ يُحَصِّلُ أَصْلَ سُنَّةِ الصَّوْمِ وَإِنْ لَمْ يُحَصِّلْ الثَّوَابَ الْمَذْكُورَ لِتَرَتُّبِهِ فِي الْخَبَرِ عَلَى صِيَامِ رَمَضَانَ . وَإِنْ أَفْطَرَ رَمَضَانَ تَعَدِّيًا حَرُمَ عَلَيْهِ صَوْمُهَا. وَقَضِيَّةُ قَوْلِ الْمَحَامِلِيِّ تَبَعًا لِشَيْخِهِ الْجُرْجَانِيِّ ( يُكْرَهُ لِمَنْ عَلَيْهِ قَضَاءُ رَمَضَانَ أَنْ يَتَطَوَّعَ بِالصَّوْمِ كَرَاهَةُ صَوْمِهَا لِمَنْ أَفْطَرَهُ بِعُذْرٍ

Artinya:
“Masalah di Tanbih dan banyak ulama menyebutkan bahwa orang yang tidak berpuasa Ramadhan karena uzur, perjalanan, masih anak-anak, masih kufur, tidak dianjurkan puasa sunnah enam hari. Abu Zur‘ah berkata, tidak begitu juga. Ia tetap dapat pahala sunnah puasa Syawal meski tidak mendapatkan pahala yang dimaksud karena efeknya setelah Ramadhan sebagaimana tersebut di hadits. Tetapi jika ia sengaja tidak berpuasa di bulan Ramadhan tanpa uzur, maka haram baginya puasa sunnah. Penjelasan Al-Mahamili mengikuti pandangan gurunya, Al-Jurjani. (Orang utang puasa Ramadhan makruh berpuasa sunnah, kemakruhan puasa sunnah bagi mereka yang tidak berpuasa Ramadhan karena uzur).” (*).

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp