SEMARANG, beritajateng.tv – “Jangan Keliri, Ini Yang Asli!”, itulah yang terpampang dalam spanduk yang memenuhi Gang Grajen, Jalan Pemuda, Semarang. Meski terletak di dalam gang, namun Loenpia Mbak Lien tetap ramai dan menjadi pilihan baik wisatawan maupun warga Semarang.
Pada hari Minggu 2 Juli siang contohnya. Saat beritajateng.tv berkunjung, belasan pengunjung harus mengisi waiting list dan menunggu hingga satu jam lamanya saking ramai dan famous-nya tempat ini.
Christian Edonis, generasi kelima penerus Loenpia Mbak Lien menyebut, salah satu faktor yang membuat orang rela antre di tempatnya adalah cita rasa yang autentik. Berdiri sejak 1930, atau hampir seabad eksis, Edonis mengaku bahwa Loenpia Mbak Lien memang masih mempertahankan resep turun temurun.
“Jadi di satu sisi kita mempertahankan keauntetikan rasa yang udah ada dari dulu, peninggalan pendahulu, tapi kita juga membuat varian rasa baru untuk memenuhi keinginan jaman sekarang,” kata Edonis kepada beritajateng.tv, Minggu 2 Juli 2023.
Edonis menambahkan, untuk menjaga popularitas, ia berkomitmen untuk terus berinovasi membuat menu baru. Saat ini, terdapat beberapa varian selain lumpia original, yakni lumpia original, lumpia kepiting jamur, dan lumpia mozarella.
“Original tentu yang favorit, tapi varian kepiting dan jamur juga banyak yang beli, sejauh ini jam 2.00 WIB sudah sold out,” lanjutnya.
BACA JUGA: Produksi Kulit Lumpia Semarang Meningkat Jelang Lebaran, Pekerja Lembur 24 Jam
Loenpia Mbak Lien Berawal dari Persaingan Bisnis
Sejarah terciptanya Loenpia Mbak Lien sendiri terbilang unik. Awalnya, kakek nenek buyut Edonis, yaitu Tjoa Thay Joe, pemuda asli Tionghoa dan Mbok Wasih, seorang gadis asli Semarang sama-sama menjual makanan berbahan dasar rebung.
Persaingan sehat diantara keduanya lantas menuntun Tjoa Thay Joe dan Mbok Wasih untuk terlibat jalinan asmara hingga memutuskan hidup bersama. Mereka kemudian menciptakan makanan baru dengan resep bersama, masih berbahan dasar rebung, yang kini dikenal dengan nama lumpia.
Nama lumpia sendiri berasal dari tempat keduanya menjajakan makanan, yaitu Olympia Park, sebuah pasar malam pada saat zaman penjajahan Belanda.
Dari kisah tersebutlah, generasi penerus Tjoa Thay Joe dan Mbok Wasih turut menjajakan lumpia. Salah satunya adalah mbak Lien, generasi kelima sekaligus Ibu dari Edonis.
“Kalau hari libur memang ramai sekali seperti ini, bisa sampai 1.000 pcs lumpia yang terjual,” ucap Edonis.
Terkait harga, Loenpia Mbak Lien bervariasi tergantung varian, untuk lumpia original banderolnya Rp 19,5 ribu, lumpia kepiting jamur Rp 26,5 ribu, dan lumpia mozarela Rp 24,4 ribu. (*)
Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi





