Pembangunan musholla yang didampingi akademisi dari Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang tersebut, menghabiskan dana sekitar Rp. 215 juta. Dana swadaya masyarakat itu digunakan untuk pembelian material bangunan. Yakni dinding dengan bahan kayu, stainless steel, sedangkan bagian bawah atau pondasi memanfaatkan sebanyak 110 drum plastik agar bangunan mengapung.
“PLTS di musholla apung ini didampingi Unissula. Kami memanfaatkan PLTS karena saat kami berada di laut tidak bisa menggunakan listrik PLN kecuali dengan PLTS. Untuk penggunaannya, kami sudah diberi pengarahan oleh Unissula agar lebih efisien atau tidak boros dan sesuai kebutuhan,” jelasnya. (Ak/El)





