SEMARANG, beritajateng.tv – Krisis regenerasi petani di Kabupaten Semarang mendorong Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertanikap) mengambil langkah strategis dengan mengenalkan dunia pertanian kepada pelajar sejak dini.
Bersama Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikbudpora), Dispertanikap menandatangani nota kesepahaman (MoU) Program Pangan Berdikari sebagai upaya menyiapkan generasi penerus sektor pertanian.
Melalui kerja sama tersebut, materi pertanian tanaman pangan terencanakan masuk ke lingkungan sekolah. Baik melalui kegiatan kokurikuler maupun ekstrakurikuler di tingkat SD dan SMP.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Kabupaten Semarang, Moh Edy Sukarno, mengatakan pengambilan langkah ini karena jumlah petani terus menyusut. Sementara minat generasi muda terhadap sektor pertanian masih rendah.
“Tujuannya agar anak-anak memiliki ketertarikan terhadap dunia pertanian sejak dini. Regenerasi petani harus segera terlaksana agar sektor pertanian tetap berkelanjutan,” ujar Edy di Ungaran, Senin, 22 Juni 2026.
Ia menjelaskan, kondisi saat ini cukup memprihatinkan. Sebanyak 77,6 persen petani di Kabupaten Semarang berusia di atas 45 tahun, sedangkan petani milenial hanya sekitar 11,8 persen.
BACA JUGA: Gelar Temu Tani di Kalisoro, Ketua DPRD Jateng Sumanto Bahas Potensi Pertanian dan Pariwisata
Selain itu, berdasarkan data Rumah Tangga Usaha Pertanian (RUTP), jumlah petani di Kabupaten Semarang menyusut hingga 10,27 persen dalam kurun waktu 10 tahun terakhir atau rata-rata lebih dari satu persen setiap tahun.
“Di sisi lain, jumlah penduduk terus bertambah. Kalau regenerasi petani tidak segera terlaksana, kondisi ini akan menjadi ancaman bagi produktivitas pertanian dan ketahanan pangan daerah,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut MoU tersebut, penyuluh pertanian nantinya akan terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Hal ini untuk mengenalkan praktik pertanian kepada para siswa.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Semarang, M Taufiqur Rahman, menilai program ini menjadi inovasi baru dalam dunia pendidikan karena mengintegrasikan isu ketahanan pangan ke dalam kegiatan belajar di sekolah.
Menurutnya, selama ini sekolah telah memiliki berbagai program kolaboratif. Seperti Sekolah Adiwiyata bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Sekolah Ramah Anak bersama DP3AKB, hingga Sekolah Mitigasi Bencana bersama BPBD. Namun, program yang secara khusus mengangkat tema ketahanan pangan belum pernah di terapkan.
“Kami berharap program ini bisa masuk ke kegiatan kokurikuler sehingga silabusnya dapat tercantum dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di masing-masing sekolah,” jelas Taufiq.
BACA JUGA: Penopang Utama Kehidupan Masyarakat, Sumanto Dorong Pembangunan Pertanian jadi Prioritas Pemprov
Selain melalui kokurikuler, materi pertanian juga akan di perkuat melalui kegiatan ekstrakurikuler. Program tersebut direncanakan berlaku di seluruh sekolah negeri maupun swasta di Kabupaten Semarang setelah regulasi pendukungnya rampung disusun.
Dengan langkah ini, Pemerintah Kabupaten Semarang berharap semakin banyak pelajar yang mengenal, mencintai, dan pada akhirnya tertarik menekuni sektor pertanian sebagai profesi masa depan, sekaligus menjaga keberlanjutan ketahanan pangan daerah. (*)
Editor: Farah Nazila





