Jateng

Krisis Regenerasi Petani, Pertanian Diusulkan Masuk Kokurikuler di Sekolah Kabupaten Semarang

×

Krisis Regenerasi Petani, Pertanian Diusulkan Masuk Kokurikuler di Sekolah Kabupaten Semarang

Sebarkan artikel ini
pertanian
MoU Pangan Berdikari antara Dinas Peetanian Perikanan dan Pangan (Dispeetanikap) dengan Dinas Pendidikan Kebudayaan Kepemudaan dan Keolahragaan (Disdikbudpora) Kabupaten Semarang, Senin, 22 Juni 2026. (Bowo Pribadi/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Krisis regenerasi petani di Kabupaten Semarang mendorong Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertanikap) mengambil langkah strategis dengan mengenalkan dunia pertanian kepada pelajar sejak dini.

Bersama Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikbudpora), Dispertanikap menandatangani nota kesepahaman (MoU) Program Pangan Berdikari sebagai upaya menyiapkan generasi penerus sektor pertanian.

Melalui kerja sama tersebut, materi pertanian tanaman pangan terencanakan masuk ke lingkungan sekolah. Baik melalui kegiatan kokurikuler maupun ekstrakurikuler di tingkat SD dan SMP.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Kabupaten Semarang, Moh Edy Sukarno, mengatakan pengambilan langkah ini karena jumlah petani terus menyusut. Sementara minat generasi muda terhadap sektor pertanian masih rendah.

“Tujuannya agar anak-anak memiliki ketertarikan terhadap dunia pertanian sejak dini. Regenerasi petani harus segera terlaksana agar sektor pertanian tetap berkelanjutan,” ujar Edy di Ungaran, Senin, 22 Juni 2026.

Ia menjelaskan, kondisi saat ini cukup memprihatinkan. Sebanyak 77,6 persen petani di Kabupaten Semarang berusia di atas 45 tahun, sedangkan petani milenial hanya sekitar 11,8 persen.

BACA JUGA: Gelar Temu Tani di Kalisoro, Ketua DPRD Jateng Sumanto Bahas Potensi Pertanian dan Pariwisata

Selain itu, berdasarkan data Rumah Tangga Usaha Pertanian (RUTP), jumlah petani di Kabupaten Semarang menyusut hingga 10,27 persen dalam kurun waktu 10 tahun terakhir atau rata-rata lebih dari satu persen setiap tahun.

“Di sisi lain, jumlah penduduk terus bertambah. Kalau regenerasi petani tidak segera terlaksana, kondisi ini akan menjadi ancaman bagi produktivitas pertanian dan ketahanan pangan daerah,” tegasnya.

Sebagai tindak lanjut MoU tersebut, penyuluh pertanian nantinya akan terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Hal ini untuk mengenalkan praktik pertanian kepada para siswa.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Semarang, M Taufiqur Rahman, menilai program ini menjadi inovasi baru dalam dunia pendidikan karena mengintegrasikan isu ketahanan pangan ke dalam kegiatan belajar di sekolah.