Jateng

Kritik Program Satu OPD Satu Desa Dampingan untuk Kurangi Kemiskinan, Komisi E DPRD Jateng Nilai Tak Efisien

×

Kritik Program Satu OPD Satu Desa Dampingan untuk Kurangi Kemiskinan, Komisi E DPRD Jateng Nilai Tak Efisien

Sebarkan artikel ini
dprd jawa tengah
Wakil Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah, Yudi Indras Wiendarto, saat menyampaikan materi dalam acara Rapat Koordinasi dan Sinkronasi Graduasi Bantuan Sosial di Kantor Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jawa Tengah pada Senin, 24 Februari 2025. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Wakil Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah, Yudi Indras Wiendarto, mengkritik salah satu upaya pengentasan kemiskinan yang selama ini diterapkan di Jawa Tengah. Adapun upaya yang ia kritik tersebut tak lain program Satu OPD, Satu Desa Dampingan.

Saat menyampaikan materi dalam acara Rapat Koordinasi dan Sinkronasi Graduasi Bantuan Sosial di Kantor Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jawa Tengah pada Senij, 24 Februari 2025, upaya Satu OPD, Satu Desa Dampingan itu tak memberikan dampak signifikan dalam mengentaskan kemiskinan.

Bukan tanpa alasan, politisi Gerindra itu menyinggung bahwa aksi pengentasan kemiskinan ini setelah OPD melakukan penetapan anggaran masing-masing. Hal itu membuat pengentasan kemiskinan di setiap desa bisa tak tepat sasaran.

“Rencana kerja OPD kan sudah disusun semua. Dinas Pertanian bikin apa, butuh berapa bibit dan pupuk berapa. Dinas Peternakan butuh berapa, itu sudah dibikin semua. Setelah itu baru rapat tim pengendalian kemiskinan daerah,” ucap Yudi.

BACA JUGA: Tekankan Nilai Sosial-Budaya di Sekolah, Wakil Ketua DPRD Jateng: Agar Tak Cuma Cerdas Intelektual

Jika desa yang menjadi dampingan Dinas Sosial membutuhkan ternak, kata Yudi, hal itu tentu akan sulit untuk terpenuhi. Alasannya, Dinas Sosial tak menganggarkan pengadaan ternak.

“Akhirnya semua yang terjadi sesuai  dengan rencana kerja anggarannya masing-masing. Sehingga, terus terang kegiatan pengentasan kemiskinan itu di adakan dengan pelatihan,” beber dia.

Tentunya, tutur Yudi, kegiatan pelatihan berupa seminar itu sulit untuk benar-benar mengentaskan kemiskinan.

“Misal budget untuk 1000 orang, per pelatihan menghadirkan 100 orang. Kalau sudah 10 kali pelatihan, ada pembicara, makan minum, LPJ lengkap, selesai. Tapi gak selesai kemiskinannya,” ucap dia.

Lebih lanjut, Yudi membeberkan anggaran kabupaten/kota di Jawa Tengah untuk mengentaskan kemiskinan cukup besar.

Bahkan, total anggaran setiap dinas di setiap kabupaten/kota mencapai Rp400 miliar untuk mengentaskan kemiskinan.

BACA JUGA: Tekankan Pentingnya Cegah Kasus Kematian Ibu-Bayi, Ini Kata Wakil Ketua DPRD Jateng Sarif Abdillah

Sayangnya, anggaran yang besar tersebut bagi Yudi belum menampakkan hasil kerja yang nyata dalam mengentaskan masalah tersebut di Jawa Tengah.

“Total 1 kabupaten/kota ada yang sampai 300-400 miliar dari semua dinas yang ada. Tapi itu ternyata gak ngefek, begitu juga di tempat saya. Agak banyak dinas yang anggarannya cukup besar dalam rangka menanggulangi kemiskinan,” pungkas Yudi. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp