SEMARANG, beritajateng.tv – Kasus dugaan kekerasan seksual di Pondok Pesantren (Ponpes) Tlogowungu, Kabupaten Pati, mengungkap persoalan serius terkait relasi kuasa dan lambannya pengungkapan kasus oleh korban.
Menurut Psikolog Probowatie Tjondronegoro posisi pengasuh atau ustaz yang dianggap lebih tinggi membuat anak-anak cenderung patuh tanpa berani menolak. Apalagi, korban umumnya masih dalam usia yang belum matang secara emosional.
“Anak-anak ini biasanya dijanjikan sesuatu. Karena ada relasi kuasa, apa pun yang diminta oleh pihak yang dianggap berwenang akan dipenuhi,” ungkapnya pada Selasa, 5 Mei 2026.
BACA JUGASoroti Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Santriwati Pati, Psikolog Minta Perketat Pengawasan Ponpes
Menurut Probowatie, kepercayaan orang tua terhadap lembaga pesantren turut memperkuat kondisi tersebut. Harapan agar anak memiliki keimanan yang lebih baik membuat orang tua cenderung tidak menaruh kecurigaan.
“Kepercayaan itu yang disalahgunakan. Orang tua percaya penuh, sehingga tidak ada kontrol atau kecurigaan,” jelasnya.
Pengungkapan Kasus Cenderung Terlambat
Ia menambahkan, banyak kasus kekerasan seksual baru terungkap setelah berlangsung lama. Hal ini, menurutnya, menunjukkan adanya pembiaran yang terjadi di lingkungan sekitar korban.
“Kalau pelaporan baru muncul setelah panjang, itu artinya ada pembiaran. Tidak ada laporan, tidak ada kecurigaan sejak awal,” katanya.
Selain itu, korban kerap menyimpan pengalaman traumatisnya sendiri. Bahkan, dalam beberapa kasus, trauma baru muncul setelah korban beranjak dewasa.
“Ada yang mengalami saat SD, tapi traumanya baru muncul saat SMA. Jadi tidak selalu langsung terlihat,” ungkap Probowatie.
Probowatie menekankan bahwa korban membutuhkan pendampingan agar berani membuka diri. Tanpa ruang aman untuk bercerita, trauma berisiko semakin dalam.
“Minimal korban punya tempat yang dipercaya untuk bercerita. Itu langkah awal agar mereka bisa lega,” tegasnya.
Ia mengingatkan, penanganan kasus kekerasan seksual tidak cukup hanya dari sisi hukum, tetapi juga harus memperhatikan pemulihan psikologis korban.
Ratusan Santri Terdampak Penyesuaian Pembelajaran
Sementara itu, dampak kasus di Ponpes Tlogowungu juga ratusan santri rasakan. Sebanyak 252 siswa harus menjalani penyesuaian sistem pembelajaran.





