Nasional

Maraknya Kasus Pelecehan Seksual di Kalangan Profesional, Apa Alasannya?

×

Maraknya Kasus Pelecehan Seksual di Kalangan Profesional, Apa Alasannya?

Sebarkan artikel ini
MT Haryono Semarang | pelecehan Seksual Anak
Ilustrasi pelecehan seksual. (Foto: Freepik)

SEMARANG, beritajateng.tv – Belakangan ini, marak terungkap kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh kalangan profesional seperti dokter, polisi, hingga profesor.

Sosiolog UIN Walisongo Semarang Nur Hasyim menilai, insiden ini erat kaitannya dengan etika, moralitas, hingga kekuasaan yang hanya sebatas pengetahuan tanpa adanya implementasi.

Hasyim mengungkap, pelecehan oleh kalangan profesional itu terjadi lantaran adanya hubungan kekuasaan atau relasi kuasa.

Oleh sebabnya, para korban kerap tak berdaya karena secara hierarki mereka berada di bawah para penjahat seksual tersebut.

“Fenomena itu meneguhkan bahwa soal kekerasan seksual terjadi karena ada yang disebut dengan hubungan kekuasaan atau relasi kuasa. Misalnya, kalau lihat profesor kan dipandang memiliki pengetahuan, korbannya kan mahasiswi. Jadi pengetahuan itu adalah sumber kekuasaan,” ungkap Hasyim via WhatsApp Call, Selasa 22 April 2025.

Tak hanya itu, Hasyim turut menilai kejahatan seksual yang dokter lakukan itu juga tidak lepas dari hubungan kekuasaan yang kuat antara dokter dan pasien.

“Pasien itu di hadapan dokter sama sekali tidak berdaya. Misalnya, atas alasan medis, dokter ingin menyentuh bagian tubuh yang paling personal, pasien tidak memiliki kuasa, kekuatan untuk menolak, apalagi kalau dokter mengatakan bahwa itu untuk kepentingan medis,” tegas Hasyim.

BACA JUGA: Dosen Unnes Pelaku Kekerasan Seksual Ternyata Pernah Berbuat Serupa, Modus Foto Katalog di Lab

Sama halnya dengan pelecehan seksual yang dilakukan oleh tokoh agama atau kiai yang terkenal baik dan dihormati masyarakat luas.

Dalam hematnya, status keagamaan yang tinggi seperti kiai itu sangat erat sekali hubungan kekuasaannya.

“Saya melihatnya faktor dominan ya, mengapa kekerasan seksual itu terjadi dan dilakukan oleh orang dengan jabatan akademik, status keagamaan, lalu dokter dan lain-lain? Itu karena ada faktor kuasa atas korban,” jelas dia.

Pelecehan seksual: ‘rape culture’ tak lepas dari budaya patriarki

Lebih lanjut, Haysim tak menampik kasus kekerasan seksual di kalangan profesional terjadi karena adanya dorongan seksual juga. Namun, kata Hasyim, kekerasan seksual itu tak akan terjadi tanpa adanya relasi kuasa terhadap korban.

Tak kalah penting, Hasyim turut menyoroti para predator yang merupakan kalangan terdidik sejatinya hanya memaknai nilai etika dan moralitas sebatas pengetahuan saja.

Baginya, moralitas adalah kebiasaan yang terbentuk sejak masa kecil hingga tumbuh dewasa. Kata Hasyim, kebiasaan mereka tidak mendukung untuk menjadikan moralitas dan etika itu sebagai sikap dan perilaku yang di praktekkan.

“Misalnya, sejak kecil utamanya laki-laki tidak di ajari tentang bagaimana menghormati integritas dan otonomi tubuh orang lain termasuk perempuan. Bahkan sering kali di toleransi menyentuh tubuh teman perempuan dan segala macam,” terang Hasyim.

Kemudian, lanjut dia, saat tumbuh sebagai remaja, muncul pandangan mereka bahwa perempuan hadir sebagai objek.

Dalam hematnya, pemikiran itu tumbuh kuat dalam kultur masyarakat Indonesia yang masih patriarki.

“Saat berada pada kelompok profesi itu ada yang di sebut rape culture, misalnya jokes [gurauan] seksis, gurauan yang merendahkan dan menjadikan tubuh perempuan sebagai objek itu di normalisasi. Ini justru berpengaruh pada perilaku seseorang itu,” tegas dia.

BACA JUGA: Soal Kasus Kekerasan Seksual Purworejo, Menteri PPPA: Penyelesaian Tetap Proses Hukum, Bukan Menikahkan

Itu sebabnya, kata Hasyim, etika dan moralitas hanya menjadi pengetahuan yang di ajarkan secara teori tanpa praktek di lingkungan sekolah, lingkungan kerja, hingga kehidupan masyarakat sosial.

“Jadi agama, pengetahuan tentang apa yang boleh dan tidak boleh hanya sebagai pengetahuan, bukan sebagai pedoman sikap dan berperilaku. Karena etika dan moral itu terbentuk sejalan dengan proses tumbuh kembang seseorang,” pungkas Aziz. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp