SEMARANG, beritajateng.tv – Setelah sukses menggelar pameran buku di Unnes pada Mei 2023 lalu, Maring Institute kembali menggelar pameran buku. Kali ini dengan mengangkat tema PLEIDOI, Maring mengadakan pameran buku di Planetarium UIN Walisongo Semarang, 21 hingga 30 September 2023.
Adetya Pramandira, Ketua Panitia mengungkapkan bahwa ada lebih dari 1.400 judul buku yang tersaji dalam pameran ini. Buku yang mereka tawarkan pun sangat beragam, mulai dari buku idelogi politik, biografi pahlawan, hingga buku romansa ala remaja tersedia dengan harga yang sangat terjangkau.
Sebenarnya, yang membedakan pameran buku ini dari lainnya adalah nilai bahwa pameran buku Maring tidak hanya menghadirkan beragam bacaan, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan penting.
Sesuai semangat yang selalu Maring pegang, tema pameran buku kali ini tentu tidak jauh dari gerakan perjuangan.
Dira, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa pemilihan tema pameran buku selalu memperhatikan momen yang sedang berlangsung. Jika pada pameran bulan Mei lalu tema yang diangkat adalah perjuangan buruh, maka pada pameran buku kali ini fokus pada isu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
BACA JUGA:Bermula dari Kios Buku, Begini Sepak Terjang Maring Institute Giatkan Literasi Anak Muda di Semarang
“Bulan September itu kami anggap sebagai September hitam yang mana banyak sekali korban pelanggaran HAM yang jatuh di bulan September, termasuk baru-baru ini Rempang juga terjadi di bulan September,” jelas Dira saat beritajateng.tv temui di sela pameran, Jumat 22 September 2023.
Lebih lanjut, Dira menjelaskan bahwa selain bulan September yang penuh dengan kasus pelanggaran HAM, mereka juga memberikan perhatian khusus terhadap pembelaan yang muncul dari pihak-pihak yang terlibat dalam pelanggaran tersebut.
Berangkat dari situlah tajuk pameran buku ini tercetus.
“Setiap September selalu ada pelanggaran HAM dan itu selalu ada pembelaan dari pihak-pihak yang melakukan pelenggaran, makanya pameran ini kami beri nama PLEIDOI,” lanjutnya.
Dimeriahkan berbagai kegiatan
Untuk memikat minat para pengunjung, selain pameran buku, Maring juga menyelenggarakan beberapa acara literasi dan seni. Mulai dari diskusi, parade teater, lomba cipta, politik, hingga orasi.
Di sisi lain, melihat UIN Walisongo Semarang memiliki sejarah panjang dalam gerakan perjuangan. Hanya saja, bagi Dira, semangat perjuangan di kampus ini kian menipis. Oleh karena itu, pihaknya mencoba membangkitkan kembali semangat perjuangan bagi mahasiswa UIN Walisongo.
“Kita banyak diskusi secara teoritis, jadi bagaimana membangun konstuktif berpikir kawan-kawan mahasiswa UIN Walisongo, kita bangun semangat perjuangan itu lewat diskusi-diskusi semacam ini,” lanjutnya.
BACA JUGA:Soroti Isu Lingkungan, Maring Ajak Anak Muda Semarang Nobar Film Pendek ‘Dragon For Sale’
Lebih lanjut, Dira berharap bahwa pameran semacam ini akan menjadi agenda rutin di masa mendatang. Tujuannya adalah untuk menjadikan kampus sebagai titik awal dalam perjuangan dan perubahan yang lebih baik.
“Besar harapan kami acara ini dapat memantik semangat kontribusi kita dalam melakukan perubahan,” harap Dira.(*)
Editor: Farah Nazila





