Jateng

Masa Aktif Kuota Internet 28 Hari Rugikan Konsumen, LP2K Jateng Usulkan Skema Nonaktif Tanpa Hangus

×

Masa Aktif Kuota Internet 28 Hari Rugikan Konsumen, LP2K Jateng Usulkan Skema Nonaktif Tanpa Hangus

Sebarkan artikel ini
Kuota Internet | kuota internet 28 hari
Ilustrasi kartu SIM. (Foto: Pixabay/andrewbecks)

SEMARANG, beritajateng.tv – Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Jawa Tengah menilai praktik operator seluler yang menetapkan masa aktif kuota internet selama 28 hari serta memberlakukan sistem kuota hangus merugikan konsumen.

Ketua LP2K Jawa Tengah, Abdun Mufid, menyebut perubahan masa aktif dari 30 hari menjadi 28 hari berkaitan langsung dengan percepatan hangusnya kuota internet yang telah konsumen beli.

“Terkait dengan jasa operator itu ada dua masalah. Satu, masa aktif dari 30 hari menjadi 28 hari. Kedua, kuota menjadi hangus ketika melewati batas waktu. Dua hal ini saling berhubungan,” ujar Mufid saat beritajateng.tv hubungi via panggilan WhatsApp, Senin, 5 Januari 2026.

BACA JUGA: New XL SATU Lite Inovasi Internet Rumah Plug & Play untuk Keluarga Modern Indonesia

Menurut Mufid, pemendekan masa aktif kuota secara otomatis mempercepat hilangnya hak konsumen atas kuota yang belum terpakai. Ia menilai praktik tersebut sangat merugikan konsumen karena kuota internet yang hangus sejatinya sudah terbeli dengan uang konsumen.

“Ketika itu ada percepatan jadi 28 hari, otomatis mempercepat proses hangusnya kuota. Kuota itu sudah dibeli, itu hak konsumen untuk menggunakan sesuai kebutuhan, perilaku, dan keinginannya. Tapi kemudian dibatasi seolah-olah harus habis. Kalau tidak habis, hilang. Artinya uang konsumen itu hilang. Ibaratnya sudah dibeli, tapi diambil lagi oleh pihak operator,” sambungnya.

LP2K Jateng akui banyak terima keluhan perihal masa berlaku kuota internet 28 hari

Mufid mengungkapkan, LP2K Jawa Tengah menerima banyak keluhan dari konsumen terkait praktik kuota hangus tersebut. Keluhan itu terutama datang dari konsumen yang tidak mampu menghabiskan kuota dalam waktu singkat.

Terlebih, kata dia, pola konsumsi masyarakat saat ini membuat kuota seluler tidak selalu digunakan secara maksimal.

“Keluhan itu banyak. Terutama dari konsumen yang kuotanya tidak habis. Sekarang banyak konsumen yang beli paket data, tapi juga punya Wi-Fi di rumah, punya Wi-Fi di kantor. Akhirnya kuota di handphone tidak digunakan sepenuhnya,” kata Mufid.