JatengPendidikan

Mayoritas Siswa Afirmasi di Kabupaten Semarang Sudah Masuk Sekolah Swasta

×

Mayoritas Siswa Afirmasi di Kabupaten Semarang Sudah Masuk Sekolah Swasta

Sebarkan artikel ini
SPMB sekolah swasta afirmasi
Ilustrasi kegiatan siswi SMK Al Mina, Desa Jetis, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.(Dok. SMK Al Mina)

“Yang terjadi di lapangan seperti itu. Sehingga dari kuota 36 sekolah kemitraan gelombang I di SMK Al Mina Bandungan baru lolos 10 CMB,” jelasnya.

Kemudian, lanjut Nikma, berdasarkan data di Pemprov Jawa Tengah masih ada kekosongan sekitar 31 ribu CMB yang sudah punya akun.

Mereka dari kategori afirmasi yang masih bisa di tampung. Maka berlangsunglah pembukaan SPMB tahap II dan di Kabupaten Semarang masih ada 114 target afirmasi yang bisa di tampung.

“Dari data ini, kami diminta menghubungi anak- anak tersebut untuk memastikan bahwa mereka tidak terdaftar di SMA/SMK negeri untuk bisa ditampung di sekolah kemitraan.

Terkait hal ini, suratnya baru di sampaikan per hari Jumat. Kemudian hari Sabtu sore datanya baru keluar dan hari Minggu harus bergerak untuk menghubungi para target afirmasi tersebut.

Gelombang 1 tak masuk cadangan

Hasilnya, mayoritas CMB target afirmasi yang tidak di terima di gelombang utama (gelombang I) dan tidak masuk cadangan, otomatis sudah banting setir ke sekolah-sekolah swasta.

Kondisi di lapangan, 90 persen anak-anak tersebut sudah berada di sekolah swasta. Sehingga –secara tidak langsung– orang tuanya juga gelo atau menyayangkan.

“Mengapa informasinya baru sekarang, kenapa kemarin mereka kok tidak tahu kalau ada gelombang II dan sebagainya,” tambahnya.

Terlebih, lanjut Nikma, para orang tua ini harus hutang ke sana ke mari untuk bisa mendaftarkan anaknya ke sekolah swasta kalau seharusnya bisa masuk di sekolah kemitraan.

Sehingga di gelombang II yang pendaftarannya mulai hari ini sudah masuk delapan anak. Mereka yang dari awal memang sudah terdampingi dari awal untuk proses akunnya.

Karena umumnya mereka dari keluarga brokenhome. “Sehingga, di SMK Al Mina Bandungan, untuk saat ini total sudah ada 18 anak yang bisa masuk sistem,” tambahnya.

Sedangkan yang di luar sistem ada 25 anak, tetapi tidak bisa tertampung dan mereka semua masuk golongan miskin P2 dan P3 yang kondisi ekonominya benar- benar parah.