“Ini sudah sangat bagus karena pertama letaknya strategis kemudian yang kedua dari para pelaku usaha atau ekonomi kreatif juga sangat luar biasa. Tidak ada hasil produknya ini tidak umum gitu ya (unik). Karena selama ini wisatawan itu susah mendapatkan barang-barang (cinderamata atau souvenir) untuk dibawa pulang kalau mungkin kuliner gampang Teman-teman ini mencoba untuk mengenalkan (produk-produk industry kreatif sebagai souvenir),” terang Mbak Ita.
Meski demikian, Mbak Ita mengakui bahwa masih banyak yang perlu dikembangkan dari Bulu Creative Hub. Dirinya mengajak perusahaan-perusahaan untuk dapat menyalurkan dana CSR-nya untuk pengembangan Bulu Creative Hub.
Menurutnya, dibutuhkan peran serta dari berbagai pihak agar Bulu Creative Hub bisa sesukses Pasar Santa Jakarta dan The Hallway Space Pasar Kosambi yang menjadi jujukan proyek ini.
“Kami dengan teman-teman mencoba untuk mengenalkan, bagaimana Bulu Creative Hub ini diberanikan untuk terealisasi (efektif) di 2023. Kemudian mengajak mereka yang mempunyai anggaran CSR untuk bersama melakukan make over. Karena dari sisi bangunannya sudah bagus tapi dari sisi interiornya dan kenyamanannya masih kurang. Ini membutuhkan usaha lagi untuk menarik minat utamanya anak anak muda,” tutupnya. (Ak/El)





