SEMARANG, beritajateng.tv – Kota Semarang tak hanya memiliki destinasi wisata penuh sejarah saja, tetapi fasilitas publik seperti perpustakaan pun bisa kita jumpai di sini. Salah satunya adalah Perpustakaan Warak Kayu, atau yang lebih akrab dengan nama Microlibrary Warak Kayu.
Perpustakaan yang berlokasi di Kawasan Taman Kasmaran, Jalan Dr. Soetomo, Kota Semarang ini menjadi salah satu tempat yang ramai dikunjungi oleh masyarakat sekitar. Selain karena koleksi buku yang lengkap, suasana di sini juga nyaman untuk berteduh di siangnya Kota Semarang.
Namun, siapa sangka, tidak hanya koleksi dan suasananya yang sejuk, perpustakaan yang terdiri dari dua lantai ini memiliki struktur bangunan yang unik. Berbentuk seperti rumah panggung, lantai satu hanya difungsikan sebagai taman bermain dan tempat penitipan sepatu. Sedangkan area membaca dan koleksi berada di lantai dua.
Pustakawan Microlibrary Warak Kayu, Gega Agli Dutatama menjelaskan bahwa bangunan perpustakaan mengusung konsep desain menyerupai Warak Ngendok, salah satu hewan mitologi Kota Semarang. Selain itu, Microlibrary Warak Kayu juga menjadi satu-satunya perpustakaan di Indonesia yang konstruksi bangunannya terdiri dari 90 persen kayu.
“Supaya keliatan identik banget dengan Semarang karena Microlibrary Warak Kayu itu satu-satunya arsitektur yang eco-friendly banget, yang lainnya belum ada,” jelasnya saat beritajateng.tv berkunjung, Jumat 8 September 2023.
BACA JUGA:Mukti Cafe Semarang, Surganya Pecinta Tembakau
Lebih lanjut, Duta sapaan akrabnya mengatakan bahwa perpustakaan ini berdiri sejak tahun 2020. Saat itu, Pemerintah Kota Semarang bekerja sama dengan beberapa pihak seperti Arkatama Isvara Foundation, Suryawinata Haizelman Architecture Urbanism (SHAU), dan Kayu Lapis Indonesia, bersama-sama membangun perpustakaan ini dengan tujuan meningkatkan literasi di Kota Semarang.
Mendapat Penghargaan Internasional
Karena memiliki konsep bangunan yang unik, Microlibrary Warak Kayu berhasil meraih beberapa penghargaan internasional. Yakni penghargaan Architizer A+ Awards 2020 untuk kategori bangunan perpustakaan terpopuler dan penghargaan Arsitektur Building of the Year 2021 dari ArchDaily.
Namun di balik keunikan tersebut, terdapat sejumlah peraturan yang tidak bisa disepelekan. Salah satunya yaitu pengunjung wajib memakai kaos kaki. Hal tersebut untuk menjaga lantai perpustakaan agar tidak rusak.
“Karena ini 90 persen full kayu, jadi pengunjung harus pake kaos kaki mencegah keringat merusak kayu. Selain itu juga tidak boleh membawa makan dan minum untuk mengantisipasi minuman tumpah. Jadi memang kayu ini nggak boleh kena air soalnya nanti bisa lapuk,” terang Duta.
Selain itu, desain dinding yang berongga dan terbuka sering kali membuat debu dengan mudahnya memasuki ruangan. Apalagi, lokasi perpustakaan ini terletak tepat di pinggir jalan raya. Meski begitu, Duta sebagai pengelola mengaku telah melakukan perawatan ekstra dengan membersihkan ruangan secara rutin.
“Sering dibersihin cuma karena di pinggir jalan raya, apalagi di sekitar perpustakaan banyak pohon juga. Otomatis debu dan daun berguguran itu sering masuk. Tapi saya sebagai pengelola selalu mengupayakan agar pengunjung tetap nyaman,” imbuhnya.
BACA JUGA:Berani Tampil Beda, Ini 6 Daya Tarik Dusun Semilir yang Tak Dimiliki Objek Wisata Lainnya
Microlibrary Warak Kayu beroperasi dari hari Senin hingga Sabtu, mulai pukul 09.00 sampai 15.30 WIB. Adapun jam istirahat perpustakaan umum ini pukul 12.00 – 13.00 WIB. Siapa saja bebas mengunjungi perpustakaan ini, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua.(*)
Editor: Farah Nazila





