Ekbis

Omzet Naik Belum Tentu Untung, ESB Ungkap Tantangan Bisnis Kuliner Semarang

×

Omzet Naik Belum Tentu Untung, ESB Ungkap Tantangan Bisnis Kuliner Semarang

Sebarkan artikel ini
Omzet Naik Belum Tentu Untung, ESB Ungkap Tantangan Bisnis Kuliner Semarang
Kopdar Racik Bisnis F&B di Semarang yang digelar ESB bersama komunitas TDA (Tangan Di Atas) Semarang. Kegiatan tersebut mengusung tema "Meramu Strategi Tepat, Bisnis Kuliner Semakin Kuat". (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Bisnis kuliner di Kota Semarang menunjukkan pertumbuhan positif. Namun, peningkatan transaksi belum otomatis membuat pelaku usaha bisa menikmati keuntungan lebih besar.

Kenaikan harga sejumlah bahan pangan justru menjadi tantangan yang harus pengusaha food and beverage (F&B) hadapi. Kondisi tersebut mendorong ESB mengajak pelaku usaha kuliner lebih disiplin mengelola biaya, stok, hingga margin keuntungan.

Pesan itu mengemuka dalam Kopdar Racik Bisnis F&B di Semarang oleh ESB bersama komunitas TDA (Tangan Di Atas) Semarang. Kegiatan tersebut mengusung tema “Meramu Strategi Tepat, Bisnis Kuliner Semakin Kuat”.

Co-Founder & CEO ESB, Gunawan, mengatakan Semarang memiliki modal kuat untuk mengembangkan bisnis kuliner. Kota ini memiliki warisan rasa yang terbentuk dari pertemuan berbagai budaya, mulai dari Jawa, Tionghoa, Arab hingga pengaruh kolonial.

Lumpia Semarang, Soto Bangkong, Lontong Cap Go Meh hingga Tahu Gimbal menjadi contoh bagaimana keragaman budaya berkembang menjadi identitas kuliner kota.

Menurut Gunawan, keberagaman tersebut juga tercermin dari kondisi bisnis kuliner di lapangan. Berdasarkan pemetaan internal ESB, usaha kuliner dengan segmen halal dan nonhalal dapat berdampingan di sejumlah lokasi tanpa menghilangkan karakter masing-masing.

“Ini bukan sesuatu yang sengaja kami cari, tapi kami temukan saat proses mapping merchant di lapangan. Semarang punya toleransi yang sudah mendarah daging, dan itu ikut membentuk bisnis kuliner di sini terus tumbuh menawarkan aneka cita rasa bagi para pecinta kuliner,” ujar Gunawan.

BACA JUGA: Semarak Penutupan HUT ke-81 Jawa Tengah di Boyolali, Ada Lari 5K, Kuliner Gratis, hingga Gerakan Pangan Murah 

Geliat sektor kuliner juga tercermin dalam data ekonomi Jawa Tengah. Berdasarkan data BPS Jawa Tengah yang di kutip ESB, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum pada triwulan II 2026 tumbuh 12,80 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah secara keseluruhan yang tercatat 5,71 persen maupun pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

Data internal ESB juga menunjukkan performa positif merchant F&B pengguna layanannya di Semarang. Sepanjang Januari-Juli 2026, pertumbuhan same-store tercatat 8,3 persen dari sisi transaksi dan 6,6 persen dari sisi omzet.

Angka tersebut membandingkan performa outlet yang sama dari tahun ke tahun. Artinya, pertumbuhan tidak semata-mata berasal dari bertambahnya merchant baru.

Sebanyak 75,4 persen transaksi merchant tersebut juga telah dilakukan secara non-tunai. Sementara itu, pukul 19.00 menjadi waktu dengan aktivitas pemesanan makanan paling tinggi, berada dalam periode makan malam 18.00-21.00.

Gunawan mengatakan pertumbuhan transaksi tersebut menjadi sinyal bahwa pelanggan tetap kembali ke gerai yang sama. Namun, pengusaha tetap harus memastikan kenaikan transaksi tidak habis untuk menutup kenaikan biaya operasional.

“Tidak hanya rasanya yang jujur, dan ternyata data di Semarang juga bicara hal yang sama. Transaksi tumbuh, tapi yang membuat kami senang itu tumbuhnya di toko-toko yang sama, bukan hanya karena ada merchant baru yang bergabung. Artinya, pelanggan benar-benar datang kembali,” katanya.

Menurut Gunawan, tantangan berikutnya adalah menjaga agar pertumbuhan tersebut tetap menghasilkan margin yang sehat.

“Tugas kami di ESB hanya satu, yaitu memastikan di balik momen itu, operasionalnya tidak kewalahan dan bisa melayani dengan baik, serta para pebisnis tetap bisa mendapatkan margin yang baik meski harga bahan baku naik-turun,” ujarnya.

Tekanan terhadap margin memang menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan. Data BPS Jawa Tengah per Agustus 2026 yang disampaikan ESB mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu penyumbang utama inflasi bulanan dengan andil 0,28 persen.

Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi harga daging ayam ras, cabai rawit, dan buncis. Secara tahunan, inflasi Jawa Tengah pada Agustus 2026 tercatat 3,08 persen.

Bagi pengusaha kuliner, kenaikan harga bahan baku membuat pengelolaan biaya menjadi semakin krusial. Mereka tidak bisa terus-menerus menaikkan harga menu karena daya beli konsumen juga harus di pertimbangkan.

BACA JUGA: Bisnis Hotel Makin Menantang, Aston Inn Pandanaran Hadirkan Kuliner 60 Seconds to Tokyo 

Lead Strategist F&B Operations, Co-Founder & Managing Partner GASTRO F&B Consulting, Thomas Pangaribuan, mengatakan pengusaha tidak cukup hanya mengandalkan cita rasa untuk mempertahankan bisnis.

“Agar bisnis bisa scale up dan relevan di tengah dinamika biaya bahan baku, para pebisnis kuliner tidak boleh hanya mengandalkan cita rasa,” ujar Thomas.

Ia menilai pengusaha perlu memperketat pengendalian Cost of Goods Sold (COGS), melakukan standardisasi resep, serta mengurangi food waste.

“Kontrol atas Cost of Goods Sold (COGS), standardisasi resep untuk menekan risiko food waste, serta efisiensi rantai pasok dapur adalah fondasi agar bisnis kuliner mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan,” tegasnya.

Hal serupa disampaikan Co-founder & COO Sorak Sorai, Panama Canteen dan Babakopitiam, Tadeo Christoga. Menurutnya, pelaku usaha F&B harus mampu membaca perubahan perilaku konsumen sekaligus kondisi bisnis secara cepat.

“Sebagai pelaku usaha F&B lokal, kami merasakan langsung bagaimana sensitivitas konsumen terhadap harga dan tren kuliner bergerak sangat cepat,” ungkap Tadeo.

Ia menyebut data operasional menjadi salah satu dasar penting dalam mengambil keputusan. Dengan mengetahui harga pokok penjualan dan pergerakan stok secara real-time, pengusaha dapat menentukan strategi promosi tanpa mengorbankan keuntungan.

“Ketika kita tahu angka HPP dan pergerakan stok secara real-time, kita bisa mengambil keputusan promosi yang tepat tanpa harus merusak margin,” katanya.

Melalui Kopdar Racik Bisnis F&B, ESB juga memperkenalkan sejumlah solusi berbasis teknologi untuk membantu pengusaha menghadapi persoalan tersebut.

ESB POS menjadi salah satu sistem yang di tawarkan untuk membantu pengusaha memantau penjualan, mengelola stok bahan baku, serta menghitung HPP.

BACA JUGA: Daftar 3 Rekomendasi Kuliner Solo yang Murah Meriah, Rasanya Cocok di Lidah 

Kemudian ESB Order memungkinkan pelanggan melakukan pemesanan dan pembayaran melalui kode QR, baik untuk layanan dine-in maupun takeaway.

Sementara ESB Core atau ERP memberikan pemantauan terhadap stok dan inventaris secara real-time. Sistem tersebut bertujuan untuk membantu pengusaha mengendalikan pemborosan bahan baku sekaligus memantau potensi penurunan margin.

ESB juga memperkenalkan ESB OLIN, asisten bisnis berbasis kecerdasan buatan (AI). Sistem ini menganalisis data transaksi harian dan memberikan insight bisnis, rekomendasi promosi serta prediksi kebutuhan stok.

Gunawan mengatakan teknologi tersebut bukan untuk menggantikan peran pengusaha. Sebaliknya, data harapannya membantu pemilik usaha mengambil keputusan dengan lebih cepat dan tepat.

“Pada akhirnya, bisnis kuliner itu soal konsistensi, konsisten rasanya, konsisten juga untungnya,” kata Gunawan.

“Kalau dapur tahu persis stoknya dan kasir tahu persis angkanya, pemilik usaha jadi bisa fokus ke hal yang bikin Semarang istimewa: racikan bumbu dan resep yang di wariskan turun-temurun. Itu yang kami mau bantu jaga lewat ESB,” lanjutnya.

Kopdar Racik Bisnis F&B di Semarang merupakan bagian dari roadshow nasional ESB yang berlangsung di sejumlah kota sepanjang 2026.

Rangkaian tersebut menyasar owner, founder dan pengambil keputusan bisnis kuliner untuk bertukar pengalaman dan strategi menghadapi dinamika industri F&B.(*)

 

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp