Jateng

Pasar Tradisional di Semarang Sepi Pembeli, Pengamat Soroti Turunnya Daya Beli dan Gempuran Belanja Online

×

Pasar Tradisional di Semarang Sepi Pembeli, Pengamat Soroti Turunnya Daya Beli dan Gempuran Belanja Online

Sebarkan artikel ini
Pedagang sayuran saat melayani pembeli di pasar Peterongan Kota Semarang, Sabtu, 24 Oktober 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)
Pedagang sayuran saat melayani pembeli di pasar Peterongan Kota Semarang, Sabtu, 24 Oktober 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Aktivitas jual beli di pasar tradisional jadi perbincangan di media sosial. Sejumlah pedagang membuat konten yang merasa saat ini di pasar tradisional sepi pembeli. Hal ini diduga karena menurunnya daya beli di tengah kondisi ekonomi saat ini.

Kondisi tersebut benar terjadi saat pantauan beritajateng.tv di di Pasar Peterongan, Kota Semarang, Sabtu, 24 Oktober 2026. Saat aktivitas jual beli berlangsung, salah seorang pedagang melayani warga yang mencari berbagai kebutuhan dapur, mulai dari ayam, bawang, cabai, hingga sayuran.

Melihat transaksi tersebut, seorang pedagang mengakui kondisi pasar sedang sepi. Aktivitas jual beli pasa saat ini semakin meredup.

“Pasar sakniki [sekarang] sepi, nu,” ucap seorang pedagang kepada pembeli.

Mengamati percakapan antara pedagang dan pembeli itu, menunjukkan bahwa masyarakat turut mempertimbangkan harga sebelum menentukan jumlah belanja.

BACA JUGA: Pasar Mobil Listrik Jateng Memanas, BYD Bidik 16 Dealer di Jateng-DIY

Sejumlah pembeli memilih membeli bahan pangan dalam jumlah terbatas, seperti cabai senilai Rp5 ribu sesuai kebutuhan.

Dalam transaksi tersebut juga diketahui, harga ayam potong saat ini mencapai Rp33 ribu per kilogram, bawang merah Rp45 ribu per kilogram, sedangkan bawang putih Rp50 ribu per kilogram, dan cabai rawit mencapai Rp80 ribu-Rp90 ribu per kilogram.

Contoh lain di pinggiran Kota Semarang, Nur warga Mranggen, Kabupaten Demak juga merasakan hal yang sama. Sebagai pelaku usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) dia mengaku kondisi ekonomi sedang lesu.

Aktivitas jual beli baik pelaku UMKM, dan aktivitas jual beli di pasar tradisional tak seramai sebelumnya. Terlebih saat program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan.

“Semua merasakan, mengakui memang sedang lesu. Saya kalau belanja kebutuhan berdagang di pasar, pedagang juga bilang sama,” katanya.

Dia dan pedagang sepakat, kondisi ini karena daya beli masyrakat sedang tak baik. Ditambah jalannya program MBG membuat sejumlah harga kebutuhan barang pokok naik.

“Harus pintar-pintar mengatur pengeluaran,” katanya.

Tren Belanja Online dan Daya Beli Turun

Pengamat Ekonomi Universitas Diponegoro (Undip), Dr. Esther Sri Astuti, menilai perkembangan belanja online atau daring telah mengubah kebiasaan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Banyak konsumen beralih ke marketplace atau media sosial karena harga lebih murah, banyak promo, dan barang dikirim langsung ke rumah,” katanya kepada beritajateng.tv, Sabtu, 24 Oktober 2026.

BACA JUGA: Nala Indonesian Tea, Teh Artisan Asal Batang yang Tembus Pasar Australia hingga Eropa

Menurutnya, kemudahan berbelanja secara daring membuat konsumen memiliki lebih banyak pilihan tanpa harus datang langsung ke pasar. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pedagang tradisional yang mengandalkan transaksi tatap muka.

Selain digitalisasi, Esther menyoroti melemahnya daya beli masyarakat. Tekanan finansial membuat konsumen lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang, termasuk mengurangi jumlah barang yang mereka beli.

“Kondisi ekonomi yang menantang, dan tekanan finansial tentunya. Ini membuat masyarakat menahan belanja atau memilih porsi kebutuhan yang lebih kecil,” ujarnya.

Kondisi Fisik Pasar dan Gaya Hidup Berubah

Esther juga menilai kondisi fisik pasar tradisional turut memengaruhi minat masyarakat untuk berbelanja. Sejumlah pasar masih menghadapi persoalan kebersihan, sirkulasi udara, bau, hingga keterbatasan lahan parkir.

“Banyak pasar tradisional belum mendapat revitalisasi, sehingga terkesan panas, kurang bersih, bau, serta memiliki area parkir yang sempit,” kata Esther.

BACA JUGA: UMKM Kota Semarang Bidik Pasar Global, Buyer Mesir hingga India Siap Jajaki Produk Lokal

Menurutnya, kenyamanan menjadi salah satu pertimbangan konsumen dalam memilih tempat berbelanja. Pasar tradisional yang belum memiliki fasilitas memadai berpotensi kalah bersaing dengan pusat perbelanjaan modern.

Perubahan gaya hidup, terutama di kalangan generasi muda dan keluarga modern, juga memengaruhi pilihan tempat belanja.

“Generasi muda dan keluarga modern lebih menyukai tempat belanja yang ber-AC, rapi, dan terintegrasi dengan hiburan seperti minimarket atau mal,” ucap dia.

Pemprov Lakukan Upaya Gerakan Pangan Murah

Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Provinsi Jawa Tengah, Widi Hartanto, mengatakan pemerintah daerah telah melakukan sejumlah langkah untuk merespons kenaikan harga pangan. Pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) dilakukan di sejumlah daerah dengan melibatkan pemerintah kabupaten/kota.

“Memang ada beberapa komoditas yang naik. Maka kami dari pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, melakukan upaya-upaya seperti Gerakan Pangan Murah di beberapa daerah supaya nanti untuk menjaga kestabilan harga,” kata Widi di Kantor DPD RI Perwakilan Jawa Tengah, belum lama ini.

BACA JUGA: Bawa Santri Masuk Era AI, MES Jawa Tengah Targetkan Produk UMKM Jateng Go International

Menurut keterangannya, harga cabai memiliki kecenderungan mencapai Rp70 ribu per kilogram. Meski demikian, dia belum memastikan daerah dengan harga tertinggi karena masih perlu melakukan pengecekan lebih lanjut.

“Memang ada kecenderungan sampai Rp70 ribu kemarin. Tetapi kami sudah melakukan upaya-upaya kerja sama dengan stakeholder yang lain. Kita melakukan GPM dan juga upaya-upaya yang lain,” katanya

Dia mengatakan, pelaksanaan GPM diprioritaskan melalui kerja sama dengan pemerintah kabupaten/kota. Langkah tersebut menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah ketika harga komoditas pangan mengalami kenaikan. (*)

Editor: Diaz A Abidin

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp