Viral

Pendaki Meninggal Akibat Erupsi Gunung Dukono, Berikut Fakta-Faktanya

×

Pendaki Meninggal Akibat Erupsi Gunung Dukono, Berikut Fakta-Faktanya

Sebarkan artikel ini
Gunung Erupsi
Ilustrasi gunung erupsi. freepik

SEMARANG, beritajateng.tv – Sebuah kabar mengejutkan terjadi di Maluku Utara yakni Gunung Dukono kembali meletus secara tiba-tiba.

Erupsi tersebut berlangsung pada Senin 11 Mei 2026 pada pukul 06.30 WIT. Ketinggian kolom abu akibat erupsi tersebut mencapai kurang lebih 2.700 meter di atas puncak.

Mengetahui kabar ini, tentu Tim Sar segera melakukan evakuasi menyeluruh kepada para pendaki sebelum terjadi hal yang buruk.

Informasi terakhir dari berbagai sumber mengatakan bahwa 17 pendaki sudah berhasil selamat, namun 3 orang kini telah meninggal dunia.

BACA JUGA: Menikmati Panorama Alam dari Puncak Gunung Kendil Semarang, Bisa Buat Hiking hingga Trekking

Berikut ini beberapa fakta terkini seputar meletusnya Gunung Dukono yang terletak di Maluku Utara.

Gunung Dukono Maluku Utara

Tim SAR gabungan resmi menghentikan operasi pencarian setelah ketiga pendaki yang sebelumnya kabarnya hilang dan berhasil Tim Sar termukan dalam kondisi meninggal dunia. Ketiga korban terdiri atas satu warga negara Indonesia (WNI) dan dua warga negara asing (WNA).

Korban WNI bernama Enjel berhasil terevakuasi lebih dahulu pada Sabtu (09/05) sekitar pukul 14.30 WIT. Jenazahnya berada sekitar 50 meter dari bibir kawah Gunung Dukono.

Sementara itu, dua korban lainnya merupakan warga negara Singapura, yakni Heng Wen Qiang Timothy (30) dan Shahin Muhrez bin Abdul Hamid (27). Keduanya ditemukan pada hari ketiga proses pencarian, tepatnya Minggu (10/05).

BACA JUGA: Ramai “Koperasi Merah Putih Tertinggi di Jateng View Gunung Prau”, Netizen: Siapa yang Mau Beli?

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan bahwa proses pencarian mengalami kendala karena area pencarian tertutup material vulkanik.

Operasi pencarian itu melibatkan sebanyak 98 personel SAR gabungan yang berasal dari berbagai unsur, antara lain Basarnas, BPBD Kabupaten Halmahera Utara, TNI AD, TNI AL, Polairud, Brimobda, ERT Gosowong, PMI, hingga warga setempat.
Kabarnya, Pemerintah sudah menutup total aktivitas pendakian di gunung tersebut sejak 17 April 2026. Mengetahui insiden ini, tentu pengawasan akan semakin ketat kepada para pendaki supaya tidak terulang hal yang serupa. (*)

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp