Jateng

Peringati Sumpah Pemuda, Wali Kota Agustina Apresiasi Sosok Kepahlawan Wong Semarang

×

Peringati Sumpah Pemuda, Wali Kota Agustina Apresiasi Sosok Kepahlawan Wong Semarang

Sebarkan artikel ini
Peringati Sumpah Pemuda, Wali Kota Agustina Apresiasi Sosok Kepahlawan Wong Semarang
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengapresiasi operator ekskavator Jatibarang yang bertugas di tengah kepungan api saat kebakaran Jatibarang Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Kota Semarang tidak hanya menjadi ajang membangkitkan semangat nasionalisme.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng memanfaatkan momentum tersebut untuk mengenalkan sosok-sosok yang berjasa bagi masyarakat, termasuk dua operator alat berat yang berani menghadapi kobaran api di TPA Jatibarang.

Penghargaan Wali Kota Agustina berikan dalam upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di halaman Balai Kota Semarang, Rabu, 28 Oktober 2026.

Pemerintah Kota Semarang ingin mengajak generasi muda mengenali arti pengabdian, ketekunan, dan keberanian melalui pengalaman orang-orang yang selama ini bekerja di balik layar.

BACA JUGA: Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 di Candi Gedongsongo, Semangat Merawat dan Melestarikan Bumi 

Selain Sutrisno dan Zaenu, Pemkot Semarang memberikan penghargaan kepada 34 pegawai negeri sipil (PNS) yang memasuki masa purna tugas mulai 1 November 2026.

Penghargaan juga pemkot berikan kepada atlet peraih medali emas pertama Kota Semarang dari Hapkindo Livia Stevenson pada Porprov XVII Jawa Tengah 2026 serta pemenang Festival Dalang Anak dan Remaja tingkat Kota Semarang.

Agustina mengatakan, keterlibatan generasi muda dalam peringatan Sumpah Pemuda harus ada upaya memperkenalkan sosok yang telah memberikan kontribusi nyata bagi kota tercinta.

Menurutnya, anak muda perlu memahami bahwa pelayanan publik dan pembangunan daerah bertumpu pada kerja keras banyak orang.

“Keteladanan dan integritas para senior ini akan menjadi fondasi yang kokoh sekaligus estafet yang berharga bagi generasi muda untuk melanjutkan pembangunan Kota Semarang,” ujar Agustina.

Dua Operator Berani Hadapi Api di TPA Jatibarang

Salah satu kisah yang mendapat perhatian ialah keberanian Sutrisno dan Zaenu saat membantu pemadaman kebakaran di TPA Jatibarang. Keduanya mengoperasikan alat berat untuk menjangkau sejumlah titik api, termasuk lokasi dengan medan yang sulit di jangkau.

Agustina mengapresiasi keberanian keduanya yang tetap membantu petugas pemadam kebakaran ketika kondisi di lapangan tidak mudah.

Ia menyebut, keduanya menjadi bagian penting dalam upaya penanganan kebakaran tersebut.

Menurut Agustina, pengalaman itu perlu generasi muda ketahui agar mereka memahami bahwa pengabdian tidak selalu  terlaksana oleh orang-orang yang tampil di depan publik. Ada pula pekerja yang menjalankan tugas berisiko dan jarang mendapat sorotan.

Ia mengaku bersyukur kedua operator tersebut tidak mengalami gangguan kesehatan serius setelah membantu proses pemadaman. Agustina berharap kondisi mereka terus membaik setelah mendapatkan penanganan yang di perlukan.

“Kadang mereka tidak tahu bahwa ada orang yang sudah puluhan tahun mengabdi menjadi PNS. Kemudian ada cerita seseorang yang sudah pensiun, tetapi karena belum ada penggantinya, dia terus berani membantu memadamkan api,” kata dia.

Ingin Pemuda Ikut Menentukan Agenda Sumpah Pemuda

Agustina menilai, generasi muda Semarang memiliki karakter yang beragam. Sebagian aktif menyampaikan pendapat dan mengkritisi kebijakan, sementara sebagian lainnya bekerja dalam diam melalui kegiatan sosial, literasi, maupun bidang olahraga.

Ia justru memandang perbedaan cara berekspresi tersebut sebagai hal positif. Pemerintah, menurutnya, perlu membuka ruang dialog agar perbedaan pandangan antara generasi muda dan senior bisa menghasilkan jalan tengah.

“Pemuda di Kota Semarang ini gercep. Kadang kami berselisih paham dalam mendefinisikan sesuatu. Tetapi setelah berdiskusi dan berbincang, kami bisa mencari jalan tengah. Kadang kami yang tua mengalah, kadang mereka yang muda mengalah,” ujarnya.

Agustina juga menyoroti anak muda yang berkontribusi tanpa mencari perhatian. Salah satunya mereka yang bergerak dalam pengembangan literasi, termasuk membantu memastikan perpustakaan dan koleksi buku dapat masyarakat manfaatkan.

Menurutnya, kontribusi anak muda tidak selalu diukur dari popularitas atau seberapa sering mereka muncul di media. Konsistensi menjalankan kegiatan yang bermanfaat juga menjadi bentuk pengabdian yang patut mendapatkan apresiasi.

Di bidang olahraga, Agustina mencontohkan atlet yang menghabiskan banyak waktu untuk berlatih demi meraih prestasi.

Ia menyebut keberhasilan atlet meraih medali pertama bagi Kota Semarang sebagai pencapaian yang layak mendapat penghargaan.

Namun, peringatan tahun ini juga di warnai kabar duka atas meninggalnya atlet pencak silat Semarang, Ayudiah Rivana Tridiandinata. Agustina menyampaikan belasungkawa atas kepergian atlet tersebut.

“Dan hari ini kita kehilangan seorang atlet. Ya, kami semua turut berduka cita,” katanya.

Menuju Satu Abad Sumpah Pemuda

Dia berharap peringatan Hari Sumpah Pemuda di Kota Semarang pada tahun-tahun mendatang memberi ruang lebih besar bagi generasi muda. Terutama untuk menentukan bentuk kegiatan dan sosok yang layak di apresiasi.

Ia menginginkan pemuda tidak hanya menjadi peserta dalam agenda yang di susun pemerintah. Tetapi juga ikut merancang kegiatan dan merefleksikan makna Sumpah Pemuda sesuai tantangan zaman.

“Tahun depan harus diciptakan sendiri oleh pemuda. Siapa saja yang berjasa dan perlu di beri ucapan terima kasih? Itu yang harus mereka pikirkan,” ujarnya. (*)

 

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp