“Ya, ini anak kebanggaan saya. Anak yang pertama, dia tiga bersaudara. Dia masuk Angkatan Darat itu tahun 2011. Alhamdulillah, beliau ikut Diksarbang jadi mendapat peningkatan pangkat menjadi perwira,” katanya.
Nurhafiz lahir pada 1992. Sebelum gugur dalam tugas, dia telah berkeluarga dan meninggalkan seorang istri serta satu anak.
Muharto juga menyampaikan bahwa menantunya merupakan anggota TNI dengan pangkat Sersan Kepala (Serka).
BACA JUGA: Pemakaman Khamenei Dihadiri Delegasi Saudi-Qatar, Hubungan dengan Iran Kian Membaik
Di tengah kehilangan tersebut, Muharto turut memohon doa dan meminta masyarakat memaafkan segala kesalahan putranya selama menjalani kehidupan maupun bertugas.
“Kami selaku orang tua meminta doanya untuk anak saya. Kalau dalam melaksanakan tugas atau mungkin dalam pergaulan itu ada salah kata, mohon dimaafkan yang sebesar-besarnya,” katanya.
Masih Sempat Berkomunikasi Lewat Video Call
Meski telah berangkat ke Kalimantan, komunikasi antara Muharto dan Nurhafiz masih berlangsung. Keduanya beberapa kali berbincang melalui panggilan video.
Muharto memperkirakan komunikasi terakhir dengan putranya terjadi pada Minggu atau Senin sebelum kecelakaan. Dalam percakapan itu, dia kembali mengingatkan Nurhafiz untuk menjaga keselamatan dan menerapkan SOP selama bertugas.
BACA JUGA: KSAD Pimpin Pemakaman Prajurit TNI Korban Helikopter Jatuh, Tangis Keluarga Pecah di TMP Giri Tunggal Semarang
Akan tetapi, kata dia, informasi mengenai posisi maupun tugas spesifik Nurhafiz di dalam helikopter belum Muharto ketahui secara pasti.
“Wah, informasi itu saya belum begitu pasti. Jadi, belum dapat informasi. Saya belum bisa menjawab itu,” katanya. (*)
Editor: Diaz A Abidin





