KENDAL, beritajateng.tv – Peternak ayam petelur di Kabupaten Kendal menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi, harga jual telur terus merosot dalam sepekan terakhir. Di sisi lain, biaya produksi justru membengkak karena harga pakan yang terus mengalami kenaikan.
Kondisi tersebut membuat banyak peternak harus memutar otak agar usaha tetap bertahan. Bahkan, sebagian memilih mengurangi populasi ayam produktif untuk menekan kerugian.
Peternak ayam petelur asal Kendal, Suwardi, mengatakan situasi yang dihadapi saat ini merupakan salah satu yang terberat sejak dirinya mulai beternak pada 2010.
“Selama saya berbudidaya ayam memang harga penjualan naik turun. Tetapi yang paling parah adalah saat ini. Harga telur cenderung turun, sementara harga bahan baku pakan naik. Ini yang memberatkan kami,” ujarnya saat beritajateng.tv temui di kandang ayam miliknya belum lama ini.
Menurut Suwardi, kenaikan harga pakan terjadi hampir di seluruh komponen, mulai dari konsentrat hingga bahan baku impor seperti soybean meal (SBM). Bahkan, setelah Lebaran harga pakan disebut telah mengalami kenaikan sebanyak lima kali secara bertahap.
BACA JUGA: Harga Ayam dan Telur Anjlok, Ahmad Luthfi Wajibkan Dapur MBG di Jawa Tengah Beli Produk Lokal
Saat ini harga pakan jadi mencapai sekitar Rp7.500 per kilogram, naik dari kondisi normal yang berada di kisaran Rp6.600 per kilogram. Kenaikan juga dipengaruhi menguatnya nilai tukar dolar AS yang membuat bahan baku impor semakin mahal.
“Kalau harga pakan tidak naik, kami masih bisa bertahan. Tetapi sekarang peternak bertahan dengan penyusutan,” katanya.
Berdasarkan perhitungan peternak, populasi 1.000 ekor ayam dapat mengalami kerugian sekitar Rp6,6 juta per bulan. Kerugian tersebut berasal dari rendahnya harga jual telur yang tidak mampu menutup biaya pakan, tenaga kerja, listrik, obat-obatan, hingga biaya operasional lainnya.
Untuk menekan kerugian, banyak peternak mulai mengurangi populasi ayam yang telah berumur lebih dari 80 minggu.
“Kami mengurangi populasi ayam yang sudah tua sekitar 23 persen supaya kerugiannya tidak semakin besar,” jelasnya.





