Ekbis

Peternak Ayam di Kendal Terhimpit, Harga Pakan Naik Sementara Harga Telur Terus Turun

×

Peternak Ayam di Kendal Terhimpit, Harga Pakan Naik Sementara Harga Telur Terus Turun

Sebarkan artikel ini
Peternak Ayam
Peternak ayam petelur di Kendal yang mengeluh karena harga pakan naik saat harga telur menurun karena permintaan menurun, Minggu, 5 Juli 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

KENDAL, beritajateng.tv – Peternak ayam petelur di Kabupaten Kendal menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi, harga jual telur terus merosot dalam sepekan terakhir. Di sisi lain, biaya produksi justru membengkak karena harga pakan yang terus mengalami kenaikan.

Kondisi tersebut membuat banyak peternak harus memutar otak agar usaha tetap bertahan. Bahkan, sebagian memilih mengurangi populasi ayam produktif untuk menekan kerugian.

Peternak ayam petelur asal Kendal, Suwardi, mengatakan situasi yang dihadapi saat ini merupakan salah satu yang terberat sejak dirinya mulai beternak pada 2010.

“Selama saya berbudidaya ayam memang harga penjualan naik turun. Tetapi yang paling parah adalah saat ini. Harga telur cenderung turun, sementara harga bahan baku pakan naik. Ini yang memberatkan kami,” ujarnya saat beritajateng.tv temui di kandang ayam miliknya belum lama ini.

Menurut Suwardi, kenaikan harga pakan terjadi hampir di seluruh komponen, mulai dari konsentrat hingga bahan baku impor seperti soybean meal (SBM). Bahkan, setelah Lebaran harga pakan disebut telah mengalami kenaikan sebanyak lima kali secara bertahap.

BACA JUGA: Harga Ayam dan Telur Anjlok, Ahmad Luthfi Wajibkan Dapur MBG di Jawa Tengah Beli Produk Lokal

Saat ini harga pakan jadi mencapai sekitar Rp7.500 per kilogram, naik dari kondisi normal yang berada di kisaran Rp6.600 per kilogram. Kenaikan juga dipengaruhi menguatnya nilai tukar dolar AS yang membuat bahan baku impor semakin mahal.

“Kalau harga pakan tidak naik, kami masih bisa bertahan. Tetapi sekarang peternak bertahan dengan penyusutan,” katanya.

Berdasarkan perhitungan peternak, populasi 1.000 ekor ayam dapat mengalami kerugian sekitar Rp6,6 juta per bulan. Kerugian tersebut berasal dari rendahnya harga jual telur yang tidak mampu menutup biaya pakan, tenaga kerja, listrik, obat-obatan, hingga biaya operasional lainnya.

Untuk menekan kerugian, banyak peternak mulai mengurangi populasi ayam yang telah berumur lebih dari 80 minggu.

“Kami mengurangi populasi ayam yang sudah tua sekitar 23 persen supaya kerugiannya tidak semakin besar,” jelasnya.

Harga Telur di Kandang Sentuh Rp18 Ribu per Kilogram

Di tengah biaya produksi yang meningkat, harga telur di tingkat peternak justru terus melemah. Saat ini harga telur di kandang berada di kisaran Rp18.000 s.d. Rp19.000 per kilogram, bahkan sempat turun hingga Rp17.000 per kilogram. Sementara di tingkat pasar tradisional, harga telur berkisar Rp20.000 s.d. Rp21.000 per kilogram.

Suwardi mengatakan penurunan harga dipicu melemahnya permintaan akibat beberapa faktor yang terjadi bersamaan, mulai dari libur sekolah, minimnya hajatan masyarakat selama bulan Suro, hingga berhentinya sementara operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Libur sekolah, bulan Suro tidak banyak hajatan, ditambah MBG tidak beroperasi. Itu ikut memengaruhi permintaan,” ujarnya.

Suwardi berharap pemerintah dapat segera mengoptimalkan kembali penyerapan telur melalui program MBG. Berdasarkan hasil pertemuan peternak dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Badan Gizi Nasional (BGN), dan Badan Pangan Nasional (Bapanas), terdapat kesepakatan agar telur untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dibeli dengan harga Rp26.000 per kilogram.

BACA JUGA: Harga Telur Anjlok, Peternak Ayam Petelur di Blora Terancam Gulung Tikar, Kerugian Capai Rp4,5 Juta / Bulan

Suwardi menegaskan keberlangsungan usaha peternakan tidak hanya berkaitan dengan produksi telur, tetapi juga menyangkut mata pencaharian banyak orang.

Ia mencontohkan, usaha peternakannya yang memiliki 9.000 ekor ayam mampu memproduksi sekitar 470 kilogram telur per hari dan mempekerjakan lima tenaga kerja secara langsung. Belum termasuk pekerja di sektor pendukung seperti distribusi pakan, pembuatan peti telur, hingga perawatan kandang.

Menurutnya, peternakan rakyat memiliki peran besar dalam menggerakkan ekonomi desa sekaligus mengurangi angka pengangguran.

“Kami berharap pemerintah terus hadir melindungi peternak. Kami bukan hanya memproduksi telur, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan dan ikut menggerakkan ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp