Susilo menjelaskan tingkat kerugian peternak sangat bergantung pada jumlah ayam yang mati selama pemadaman berlangsung. Menurut kterangannya, tingkat kematian atau deplesi sebesar 25 hingga 30 persen saja sudah cukup membebani peternak.
Bahkan pada peternak yang tidak memiliki genset, tutur Susilo, angka kematian anak ayam bisa jauh lebih tinggi.
“Kalau deplesinya katakanlah sampai 25 persen atau 30 persen, ya cukup lumayan kerugiannya. Kalau yang tidak punya genset, angka kematiannya bisa sampai paling banyak 50 persen,” terang Susilo.
Ia menambahkan, kondisi malam hari menjadi waktu yang paling mengkhawatirkan karena anak ayam kehilangan sumber cahaya sekaligus pemanas kandang.
Seribu Anak Ayam Mati, Peternak Bisa Rugi Rp6 Juta
Selain berdampak pada produksi, kematian anak ayam juga memicu kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Susilo menjelaskan harga patokan anak ayam umur sehari saat ini berada di kisaran Rp6 ribu per ekor.
“Harga patokan pemerintah sekarang misalnya Rp6.000 per ekor,” katanya.
Dengan harga tersebut, kematian seribu ekor anak ayam saja sudah menimbulkan kerugian jutaan rupiah bagi peternak. “Kalau yang mati seribu ekor saja, berarti ruginya Rp6 juta,” ujar Susilo.
Padahal kapasitas kandang ayam pedaging rata-rata mencapai ribuan ekor.
“Padahal kapasitas kandang rata-rata minimal lima ribu sampai 10 ribu ekor. Kalau kandang yang besar itu kapasitasnya sekitar 20 ribu ekor,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi pemadaman listrik, peternak biasanya mengandalkan genset sebagai sumber listrik cadangan. Namun solusi tersebut tidak selalu mudah diterapkan oleh peternak kecil karena membutuhkan investasi yang cukup besar.
BACA JUGA: BBM Naik Ancam Distribusi Pangan, Distanak Pastikan Jateng Surplus 494 Ribu Ton Daging Ayam
“Ya mengandalkan genset. Kalau pakai lampu emergency, tahannya berapa lama? Kalau kandangnya selebar itu kan butuh lampunya juga banyak,” kata Susilo.





