Jateng

Peternak Jateng Khawatir Pemadaman Listrik Picu Kematian Massal Bibit Ayam, Bisa Rugi Puluhan Juta

×

Peternak Jateng Khawatir Pemadaman Listrik Picu Kematian Massal Bibit Ayam, Bisa Rugi Puluhan Juta

Sebarkan artikel ini
Pemadaman Listrik Ayam
Ilustrasi ayam ternak. (Bowo Pribadi/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tvPemadaman listrik yang terjadi di sejumlah wilayah Jawa Tengah dalam beberapa waktu terakhir memunculkan kekhawatiran di kalangan peternak ayam pedaging.

Peternak menilai gangguan pasokan listrik berisiko memicu kematian massal anak ayam atau Day Old Chick (DOC), utamanya pada masa awal pemeliharaan yang sangat bergantung pada pemanas kandang.

Ketua Asosiasi Peternak Pedaging Jawa Tengah, Susilo, mengatakan kerentanan terbesar terjadi pada anak ayam berusia satu hingga 14 hari atau yang masih memasuki masa brooding.

BACA JUGA: Sepakati Menu MBG Jateng, Pemprov: Telur dan Ayam Masing-masing Dua Kali dalam Seminggu

“Kalau ayam pedaging terganggu. Waktu masih kecil, umur 1 sampai 14 hari, itu namanya masa brooding. Fase itu butuh pemanas,” ujar Susilo saat beritajateng.tv hubungi, Minggu, 21 Juni 2026.

Susilo menuturkan, saat listrik padam dan kandang menjadi gelap, anak ayam cenderung berkumpul dan saling menumpuk di satu titik.

“Kalau lampu mati atau listrik padam, ayam itu menumpuk di kandang. Karena begitu gelap mereka menumpuk, itu pada mati. Kalau di kami, mati itu namanya deplesi. Deplesinya tinggi akibat mati lampu,” imbuh Susilo.

Peternak Ayam Skala Kecil Paling Rentan Saat Listrik Padam karena Tak Punya Genset

Susilo menuturkan, peternak skala besar umumnya memiliki genset sebagai sumber listrik cadangan. Namun, kondisi berbeda dialami peternak kecil yang belum memiliki fasilitas tersebut.

“Kalau peternak yang besar biasanya punya genset. Tapi kalau peternak yang kecil-kecil kan tidak punya. Jadi masalahnya di situ,” katanya.

Ia mengaku, hingga saat ini asosiasi belum mendata secara rinci jumlah kematian ayam akibat pemadaman listrik. Kendati begitu, kata dia, keluhan dari peternak terus bermunculan.

“Kalau totalnya kita tidak mendata berapa. Tapi keluhannya begitu, kalau listrik mati pas masa brooding, pengaruhnya ayam menumpuk lalu mati. Banyak yang mati, deplesinya tinggi,” ungkap Susilo.

Susilo meyakini, kondisi tersebut menjadi kekhawatiran tersendiri apabila pemadaman kembali terjadi dalam durasi yang cukup lama.

BACA JUGA: Peternak Ayam Petelur Jateng Protes Ada Dapur MBG Beli Telur Rp21 Ribu per Kg, Padahal Harga Acuan Pemerintah Rp26.500

Susilo menjelaskan tingkat kerugian peternak sangat bergantung pada jumlah ayam yang mati selama pemadaman berlangsung. Menurut kterangannya, tingkat kematian atau deplesi sebesar 25 hingga 30 persen saja sudah cukup membebani peternak.

Bahkan pada peternak yang tidak memiliki genset, tutur Susilo, angka kematian anak ayam bisa jauh lebih tinggi.

“Kalau deplesinya katakanlah sampai 25 persen atau 30 persen, ya cukup lumayan kerugiannya. Kalau yang tidak punya genset, angka kematiannya bisa sampai paling banyak 50 persen,” terang Susilo.

Ia menambahkan, kondisi malam hari menjadi waktu yang paling mengkhawatirkan karena anak ayam kehilangan sumber cahaya sekaligus pemanas kandang.

Seribu Anak Ayam Mati, Peternak Bisa Rugi Rp6 Juta

Selain berdampak pada produksi, kematian anak ayam juga memicu kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Susilo menjelaskan harga patokan anak ayam umur sehari saat ini berada di kisaran Rp6 ribu per ekor.

“Harga patokan pemerintah sekarang misalnya Rp6.000 per ekor,” katanya.

Dengan harga tersebut, kematian seribu ekor anak ayam saja sudah menimbulkan kerugian jutaan rupiah bagi peternak. “Kalau yang mati seribu ekor saja, berarti ruginya Rp6 juta,” ujar Susilo.

Padahal kapasitas kandang ayam pedaging rata-rata mencapai ribuan ekor.

“Padahal kapasitas kandang rata-rata minimal lima ribu sampai 10 ribu ekor. Kalau kandang yang besar itu kapasitasnya sekitar 20 ribu ekor,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi pemadaman listrik, peternak biasanya mengandalkan genset sebagai sumber listrik cadangan. Namun solusi tersebut tidak selalu mudah diterapkan oleh peternak kecil karena membutuhkan investasi yang cukup besar.

BACA JUGA: BBM Naik Ancam Distribusi Pangan, Distanak Pastikan Jateng Surplus 494 Ribu Ton Daging Ayam

“Ya mengandalkan genset. Kalau pakai lampu emergency, tahannya berapa lama? Kalau kandangnya selebar itu kan butuh lampunya juga banyak,” kata Susilo.

Meski biaya operasional genset tidak terlalu besar, biaya pembelian awal masih menjadi kendala utama. Susilo menerangkan, genset yang mampu memenuhi kebutuhan kandang ayam umumnya memiliki kapasitas sekitar 5.000 watt.

“Sebetulnya kalau ongkos solar tidak begitu mahal. Cuma mahal di pembelian pertama saja. Genset untuk kandang itu dayanya paling tidak sekitar 5.000 watt. Harganya sekitar Rp15 jutaan,” jelasnya.

Oleh sebab itu, Susilo mengakui para peternak tetap menyimpan kekhawatiran apabila sewaktu-waktu terjadi pemadaman listrik dalam skala besar atau berlangsung cukup lama.

“Iya, ada kekhawatiran tentunya. Cuma akhirnya pada mengantisipasi. Pokoknya pada saat malam listrik mati, karena tidak ada cahaya, ya harus ada penerangan. Penerangan bisa dari genset, atau biasanya kalau yang belum punya genset ya pakai lampu emergency,” pungkas Susilo. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp