SEMARANG, beritajateng.tv – Meski menjabat sebagai Ketua DPD Gerindra Jawa Tengah baru 4 bulan sebelum Pilpres, namun Sudaryono berhasil memenangkan pasangan calon (paslon) nomor urut 02, Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka, di kandang banteng.
Bahkan, berdasarkan unggahan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jateng di media sosial resminya, Prabowo-Gibran memperoleh 12.096.454 suara atau 53,08 persen. Angka itu mengalahkan paslon nomor urut 03, Ganjar Pranowo–Mahfud MD dengan perolehan 7.827.335 suara atau 34,35 persen.
Sudaryono menyebut mampu mengalahkan Ganjar-Mahfud sebagai paslon usungan PDI Perjuangan di Jateng melampaui ekspektasinya.
“Di atas ekspektasi, awalnya menarget seimbang dan sekali putaran, tetapi surprisingly menarik, ya. 53 persen [secara nasional] itu signifikan,” ujar Sudaryono dalam podcast Total Politik pada Sabtu, 9 Maret 2024.
BACA JUGA: Gerindra Jateng Klaim Tambah Kursi di Pileg 2024, Sudaryono: Tidak Menang tapi Naiknya Signifikan
Menurut Sudaryono, approval rate atau tingkat kepuasan masyarakat Jateng terhadap Presiden RI Joko Widodo menjadi modal utama dalam pemenangan Prabowo-Gibran di wilayah ini. Terlebih, Jokowi secara blak-blakan menunjukkan dukungannya kepada paslon nomor urut 02 tersebut.
Sudaryono pun membenarkan perkataan Ketua DPD PDI Perjuangan Jateng, Bambang ‘Pacul’ Wuryanto, yang menyebut bahwa approval rate Jokowi itu menyentuh angka 90 persen secara nasional.
“Kita harus akui, lebih dari 90 persen orang di Indonesia senang sama Pak Jokowi. Tentunya senang sama Pak Jokowi itu modal. Kalau diperhatikan foto billboard di Jateng Prabowo dan Jokowi itu, suka tidak suka, mau tidak mau, memang Presiden Jokowi yang dicintai rakyatnya,” terang Sudaryono.
Yakini tak ada rakyat desa di Jateng yang tak kenal Jokowi
Bahkan, Sudaryono dengan yakin menuturkan bahwa tak ada orang di akar rumput seperti pedesaan dan pelosok Jateng yang tak mengenal nama Jokowi. Sehingga, approval rate Jokowi yang begitu tinggi ini mampu mendongkrak suara Prabowo-Gibran di Jateng.
Selain sokongan citra Jokowi yang melekat baik di Jateng, kerja keras Gerindra sekaligus kerja kelompok antarpartai pengusung pun turut menjadi faktor kemenangan Prabowo-Gibran di Jateng.
“Kita telah berproses dari Pemilu ke Pemilu. Kita, kalah, evaluasi, kalah, evaluasi lagi. Dukungan dari koalisi kan cukup besar. Misalnya bupati di Jateng yang dari Gerindra atau Golkar kan tidak resisten dengan kampanye kita. Istilahnya kerja kelompoklah, ya,” ungkapnya.
Sudaryono yang telah menjadi tangan kanan Prabowo sejak 2010 silam itu pun mengaku pasukan infanteri atau yang tempur langsung di lapangan menjadi kunci penting, selain pengaruh sosial media dan serangan udara.
BACA JUGA: Bakal Gelar Konsolidasi, Partai Gerindra Belum Kantongi Nama Kandidat di Pilwakot Semarang 2024
“Kira-kira tiga minggu sebelum Gibran jadi cawapres, tumpuan atau sesuatu yang utama itu adalah pasukan di lapangan. Kita harus sampai TPS RT desa, aku menekankan itu. Ujungnya kita harus mencari, menggalang, dan mengamankan suara,” paparnya.
Menjabat hanya 4 bulan sebelum hari H Pilpres, tutur Sudaryono, ia tak boleh sampai salah mengambil langkah.
“Langkah selama empat bulan itu tidak boleh salah. Saya langsung safari ke 35 kabupaten/kota, ketemu ranting, sehari bisa dua sampai tiga kabupaten. Kenali diri kamu dan kenali medanmu, 1.000 kali bertempur, 1.000 kali menang seperti kata Lao Tzu,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





