Jateng

Produksi Anjlok Akibat Mesin Rusak, Pabrik Gula Blora Hanya Giling 219 Ribu Ton Tebu di 2025

×

Produksi Anjlok Akibat Mesin Rusak, Pabrik Gula Blora Hanya Giling 219 Ribu Ton Tebu di 2025

Sebarkan artikel ini
pabrik gula blora
Suasana Pabrik gula Gendhis Multi Manis (GMM) Todanan, Blora, Jawa Tengah. (Heri/beritajateng.tv)

Beberapa pabrik yang didatangi di antaranya PG Lamongan milik PT Kebun Tebu Mas serta PG Trangkil milik PT Kebon Agung.

Selain itu, PT GMM juga memberikan layanan gratis berupa penggunaan crane dan jembatan timbang untuk membantu proses langsir tebu dari truk kecil ke truk tronton.

Memasuki tahun 2026, manajemen PT GMM tengah menyusun strategi perbaikan menyeluruh terhadap mesin pabrik.

Namun rencana tersebut belum dapat segera terlaksana karena kondisi keuangan perusahaan yang masih mengalami defisit.

Pelaksana Tugas Direktur Utama PT GMM, Sri Emilia Mudiyanti, mengatakan pihaknya telah melakukan komunikasi dengan para pemegang saham untuk mendapatkan dukungan perbaikan mesin.

“Saat ini PT GMM sudah melakukan komunikasi dengan Perum BULOG dan PT Mandiri Pangan Sejahtera untuk meminta bantuan dalam perbaikan mesin,” ujarnya, Kamis, 24 Maret 2026.

Upaya tersebut juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Blora serta berbagai pihak lainnya.

Direktur Operasional PT GMM, Krisna Murtiyanto, mengungkapkan bahwa jajaran Pemerintah Kabupaten Blora bersama pimpinan DPRD, pengurus APTRI, Serikat Pekerja GMM, dan direksi perusahaan telah melakukan audiensi dengan Direktur Utama Perum BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani, di Jakarta pada 21 Januari 2026.

“Pertemuan tersebut mendapatkan respons positif terkait rencana perbaikan GMM tahun ini, namun persetujuan bantuan masih dalam proses,” kata Krisna.

Ia berharap PG Blora dapat kembali beroperasi pada tahun 2026. Hal ini karena keberadaan pabrik tersebut memberikan dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat.

BACA JUGA: Segera Hadir di Bioskop! Berikut Jadwal Tayang Film Horor Pabrik Gula

Menurutnya, lebih dari 250 petani tebu, sekitar 600 karyawan, serta lebih dari 1.000 tenaga tebang angkut dan sopir truk menggantungkan aktivitas ekonomi pada operasional pabrik tersebut.

“Selain itu toko, warung makan, dan berbagai kegiatan ekonomi di sekitar pabrik juga ikut bergerak ketika pabrik beroperasi,” ujarnya.

Manajemen PT GMM menyatakan tetap optimistis pabrik gula tersebut dapat kembali bangkit.