Jateng

Proyek Pakuwon Gombel Lama Berjalan, Warga Mengaku Rumah Makin Amblas dan Takut Tidur

×

Proyek Pakuwon Gombel Lama Berjalan, Warga Mengaku Rumah Makin Amblas dan Takut Tidur

Sebarkan artikel ini
warga gombel lama
Salah seorang warga Gombel Lama, Misiyati saat menunjukkan plafon kamar mandi di rumahnya yang runtuh, Jumat, 7 Agustus 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Persoalan retakan dan kerusakan rumah warga di kawasan Gombel Lama, Kota Semarang, kembali mencuat. Warga bersama Yayasan Forum Advokasi Rakyat (YFAR) menilai jawaban Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang atas somasi yang terlayangkan sebelumnya belum menjawab substansi persoalan yang jadi pertanyaan.

Ketua Harian YFAR, Johnarie Nugroho, mengatakan pihaknya masih mempertanyakan kelengkapan dokumen lingkungan dan kajian yang menjadi dasar pengawasan proyek pembangunan kawasan terpadu Pakuwon Mall Gombel Lama.

Sebelumnya, YFAR melayangkan somasi kepada DLH Kota Semarang melalui surat Nomor 016/Sms/Bh-YFAR/III/2026 tertanggal 29 Juli 2026. Somasi tersebut menyoroti dugaan kelalaian pengawasan terhadap dampak lingkungan dan geologis proyek.

Johnarie menegaskan pihaknya tidak berada pada posisi menolak investasi maupun pembangunan Pakuwon Mall. Ia meminta pemerintah tidak hanya melihat pembangunan dari sisi investasi, tetapi juga memastikan hak masyarakat yang terdampak tetap terlindungi.

“Pada dasarnya kami enggak pernah menolak investasi. Kami juga enggak pernah bicara menolak pembangunan Pakuwon. Tapi yang kemudian kita lindungi adalah hajat, hak hidup, lingkungan dan manusia,” tegas Johnarie saat wartawan temui di kawasan Gombel Lama pada Jumat, 7 Agustus 2026 malam.

BACA JUGA: Progres Perbaikan Gombel Lama Tembus 39 Persen, BBPJN Targetkan Jalan Beroperasi Agustus 2026

DLH Kota Semarang kemudian memberikan jawaban melalui surat tertanggal 6 Agustus 2026. Namun, menurut Johnarie, jawaban tersebut belum membuka dokumen yang diminta secara lengkap.

Johnarie menilai terdapat ketidaksesuaian antara pertanyaan yang disampaikan melalui somasi dengan jawaban yang diberikan DLH. Ia menyebut pihaknya mempertanyakan dokumen Amdal, kajian hidrologi, kondisi geologi hingga langkah konkret pemerintah terhadap rumah warga yang mengalami kerusakan.

“Justru kualitas DLH dengan rilis yang saya terima ini bisa kita pertanyakan. Kita tanyanya A, dia jawabnya Z. Menurut kami sudah enggak perlu ada pembahasan karena enggak nyambung,” ujarnya.

DLH Janjikan Evaluasi Dokumen Lingkungan